risiko surat perjanjian borongan SPB

Di dunia konstruksi bangunan ada risiko yang mungkin saja terjadi sehingga menimbulkan kerugian.

Yang dimaksud risiko bangunan adalah kerusakan hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan pemborong atau kontraktor akibat suatu hal.

Jika diminta memilih, pastinya semua pihak tidak akan mau menerima kerugian ketika risiko itu terjadi.

Oleh karena itu agar tidak terjadi perselisihan maka perlu dibuat pasal yang mengatur masalah risiko dalam surat perjanjian borongan (SPB).

Agar jelas pihak mana yang harus menanggung biaya untuk masing-masing kerugian ketika terjadi kerusakan akibat hal-hal tertentu.

 

risiko

risiko

Pasal 19

RISIKO

19.1. Jika hasil pekerjaan PIHAK KEDUA musnah dengan cara  apapun (selain  karena Keadaan Memaksa atau karena sebab  tersebut pada  ayat  3 pasal ini) sebelum  diserahkan  kepada  PIHAK PERTAMA, maka PIHAK KEDUA bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerugian yang timbul akibat kelalaian PIHAK KEDUA.

19.2. Jika  hasil pekerjaan PIHAK KEDUA sebagian atau  seluruhnya musnah di luar kesalahan kedua belah pihak (akibat  Keadaan  Memaksa  tersebut  dalam Pasal 18 Perjanjian  ini)  sebelum pekerjaan  diserahkan kepada PIHAK PERTAMA pada waktu  yang ditentukan   berdasarkan  Perjanjian  ini,  maka    berlaku ketentuan pasal 18.4  Perjanjian ini.

19.3. Jika  hasil pekerjaan PIHAK KEDUA sebagian atau  seluruhnya musnah  disebabkan  karena  kelalaian  PIHAK  PERTAMA  atau orang/pihak  yang  dipekerjakan oleh  PIHAK  PERTAMA,  maka segala kerugian yang timbul ditanggung oleh PIHAK PERTAMA.

19.4. Jika   pada  waktu  pelaksanaan  terjadi   kemacetan   yang diakibatkan  tidak masuknya atau tidak  tersedianya  bahan, alat karena semata-mata kesalahan PIHAK KEDUA, maka  segala risiko   akibat   kemacetan  pekerjaan   tersebut   menjadi tanggung-jawab PIHAK KEDUA.

19.5. Segala  persoalan  dan tuntutan para  tenaga  kerja  maupun pihak yang diberi tugas oleh  PIHAK KEDUA menjadi beban dan tanggung  jawab penuh PIHAK KEDUA dan oleh karenanya  PIHAK KEDUA  membebaskan PIHAK PERTAMA dari segala tuntutan  para tenaga kerja dan subkontraktor  PIHAK KEDUA yang  berkenaan dengan  pelaksanaan  pekerjaan yang  bersangkutan  baik  di dalam maupun di luar Pengadilan.

19.6. Bilamana   PIHAK   KEDUA  selama   melaksanakan   Pekerjaan  DEWATERING GEDUNG SEMUT  menimbulkan  kerugian  bagi  pihak   ketiga (pihak-pihak    yang  tidak  ada  sangkut   pautnya   dalam Perjanjian ini), maka segala kerugian ditanggung sepenuhnya oleh PIHAK KEDUA.

Tags:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.