beruntung karena tidak sengaja masuk sekolah SMK jurusan Bangunan

Ngapain capek-capek sekolah SMK jurusan bangunan apa mau jadi tukang? begitulah kurang lebih yang terbesit dipikiran saya saat lulus SMP. Tapi justru saya merasa beruntung karena tidak sengaja masuk sekolah SMK jurusan Bangunan

Maklum, sebagai anak desa yang dilihat seringkali hanyalah sawah ladang. Kurang informasi karena saat itu internet belum ada. Bahkan koran juga dapatnya yang tanggalnya sudah kadaluwarsa, he he.

Tapi keterbatasan informasi itu rasanya nikmat juga, aman dari hoax, tidak kecanduan gadget, dan menonton televisi itu rasanya seperti dunia milik sendiri.

Belum lagi di sekolah SMP itu lebih populernya pelajaran elektro, mesin, listrik, dan sejenisnya. Mengenai ilmu bangunan seakan bagaikan rumput dihalaman yang sebenanya ada tapi lebih banyak diabaikan.

 

Ketika memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan maka yang pertama terbesit dalam benak saya adalah ambil jurusan mesin di sekolah favorit.

Tapi malangnya peminatnya banyak sekali, jadi terpikir bahwa peluang masuknya pasti kecil. Akhirnya melangkah mundur mendaftar di sekolah lain yang tidak begitu favorit ambil jurusan elektro, sehingga proses pendaftaran berjalan lancar sampai selesai.

Tapi hati ini bergejolak pingin sekolah di SMK favorit itu saja sehingga memutuskan mendaftar lagi dengan ambil jurusan yang paling sedikit peminatnya yaitu teknik bangunan agar peluang diterimanya lebih besar.

 

Waktu berjalan, tibalah saatnya pengumuman apakah diterima atau ditolak pendaftaran masuk sekolahnya. Pagi-pagi sekali semangat naik bus menuju kedua sekolah tersebut yang kebetulan lokasinya berdampingan.

Perjalanan sejauh 40 km itu bukanlah sesuatu yang ringan dan menggembirakan, maklum anak desa masih suka mabok perjalanan kalau naik bus, he he.

Sampai ke lokasi, yang pertama dilakukan adalah melihat pengumuman di sekolah favorit, baca daftar nama yang ditempel disalah satu dinding sekolah alhamdulillah nama saya tercantum disitu, alias diterima menjadi siswa dengan jurusan bangunan.

Lalu lanjut lihat pengumuman di sekolah kedua yang jurusan elektro ternyata diterima juga. Tapi saya putuskan ambil yang sekolah favorit saja meskipun jurusan bangunan tidak mengapa asalkan hati merasa nyaman.

 

Dan waktupun terus berjalan hingga tiba waktunya mengikuti kegiatan belajar mengajar. Terus terngiang apa yang disampaikan oleh salah satu guru.

Beliau bilang begini = “beruntung kalian ambil jurusan bangunan karena nanti setelah lulus kerjanya ditempat yang lebih nyaman dari jurusan lain. Kalau jadi drafter itu kerjanya diruangan bersih yang ber AC, beda dengan jurusan mesin yang kerjanya dibengkel terkena oli kendaraan. Kalau kerja di proyek juga posisinya pemimpin, setidaknya pelaksana atau mandor yang membawahi para tukang.” he he. Alhamdulillah kata-kata itu bisa menjadi motivasi dalam menjalani setiap pelajaran sekolah yang disampaikan.

 

Akhirnya pilihan serta kesusahan itu berbuah manis, karena diakhir menjelang kelulusan. Hanya berbekal raport saja karena ijazah belum keluar. Disitu berhasil diterima kerja disalah satu perusahaan BUMN sebagai pegawai tetap. Alhamdulillah, kerjanya juga tidak sebagai tukang , tapi langsung jadi karyawan kontraktor yang membangun gedung-gedung pencakar langit di ibu kota. Posisinya terkadang sebagai pelaksana, uitzet / surveyor, drafter, quantity surveyor di ruangan bersih dingin ber AC. Dan posisi kerja itu masih berpotensi lebih baik, jika melanjutkan kuliah jurusan teknik sipil.

 

Begitulah cerita singkatnya, semoga bisa menginspirasi serta menjadi penyemangat bagi para sahabat sekalian.

Pada intinya semua jurusan sekolah SMK itu bagus. Menyesuaikan bakat, kemampuan serta hobby setiap pribadi yang menjalaninya. Ada yang suka otak atik mesin bisa ambil jurusan teknik sepeda motor, suka eloktronik ambil elektro, dan yang lainya. Jadi tetap semangat menjalani apa yang sudah menjadi pilihan, semoga sukses kawan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.