titik kritis pada pekerjaan atap rumah

X.Furuhitho, ST., MT dalam tulisannya tentang teori arsitektur menuliskan tentang titik sebagai sebuah penanda sebuah posisi dalam ruang. Secara konseptual, titik tidak memiliki ukuran panjang, lebar, maupun tinggi, dan karenanya bersifat statis, terpusat dan tidak memiliki arah. Sebagai unsur utama di dalam perbendaharaan bentuk, maka sebuah titik dapat digunakan untuk menandai:

  1. kedua ujung sebuah garis
  2. persilangan antara dua garis
  3. pertemuan garis-garis di ujung sebuah bidang atau ruang
  4. titik pusat sebuah daerah

 

Sebuah titik tidak memiliki dimensi. Untuk memperlihatkan keberadaan sebuah titik dalam suatu ruang atau di atas permukaan tanah, maka titik itu harus diproyeksikan secara vertical menjadi suatu bentuk linier, seperti sebuah kolom, tugu atau menara, setiap elemen kolumnar dalam gambar denah akan terlihat sebgai sebuah titik dan oleh karena itu tetap mengandung ciri visual sebuah titik.

Ada tiga makna tentang kritis, pertama adalah kritis dalam arti “memiliki sifat kritik, mengemukakan opini berlawanan atau suka protes”. Selain itu, ada juga arti kritis untuk “waktu yang sudah mepet, hampir selesai masa/waktunya”. Dan yang ketiga adalah dalam arti “saat-saat yang berbahaya, dalam ancaman bahaya” Kritis dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta memiliki dua arti pertama dalam keadaan krisis; gawat dan arti yang kedua berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan. (KUBI hal 620, Balai Pustaka).

 

Dalam Mestakung kondisi kristis ini dicari untuk membangunkan potensi yang terpendam dalam diri kita karena pada kondisi kritis, tiap individu berinteraksi dengan individu-individu lain. Kemudian individu-individu ini secara bersama-sama mengatur dirinya sehingga mem-brojol-lah (emerge) sesuatu situasi yang akan mengubah situasi kritis ini. Dalam fisika, proses pengaturan diri pada kondisi kritis dikenal sebagai fenomena kritis (critical phenomena). Sementara itu berfikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut  untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan, menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. (Pery & Potter,2005).

 

Dalam rangka atap baja ringan ada kondisi-kondisi kritis yang harus dilewati yang akan menentukan kekuatan atap itu sendiri, salah satunya adalah proses erection yaitu proses setelah perakitan dibawah menuju pemasangan di atas ring balk. Kondisi kritis ini terjadi karena ada kemungkinan kuda-kuda yang menjadi patah atau melendut karena belum menjadi satu kesatuan dengan kuda-kuda lainnya masih bentuk satu kuda-kuda saja. Disini dibutuhkan pengalaman empiris untuk melewati kondisi kritis ini, artinya kalau sudah melewati kondisi kritis ini (kuda-kuda sudah berdiri diatas footplate yang tertopang ke ring balk) maka kondisi kritis satu sudah dilewati. Selanjutnya proses pemasangan elemen lainnya bisa dilakukan seperti pemasangan Hip Rafter, Jack Rafter dan Reng.

 

Kondisi kritis selanjutnya adalah terjadi sesudah rangka atap terpasang yaitu ketika pekerjaan pemasangan penutup atap (genteng). Ini menjadi kondisi kritis yang akan berakibat pada gagalnya struktur ketika terjadi penumpukan genteng dan orang yang bekerja diatas katakanlah 4-10 orang pekerja berada pada satu titik (tidak menyebar). Karena atap terutama rangka atap baja ringan didesain secara utuh dengan alokasi beban orang yang bekerja tidak lebih dari 10 orang, serta pembebanan yang merata. Nah, untuk mengantisipasi hal ini, ketika proses pekerjaan pemasangan penutup atap harus dilakukan pengontrolan oleh pihak kontraktor agar tidak terjadi penumpukan orang atau genteng pada satu titik saja, harus menyebar kalau perlu dibuat seimbang misalnya dipasang secara seimbang dari dua bidang atap.

 

Struktur rangka atap baja ringan yang memakai sistem rangka batang dimana garis sumbu batang harus lurus dan masing-masing hanya menerima gaya tekan atau tarikan. Lalu garis sumbu batang bertemu pada titik simpul yang bekerja sebagai engsel dalam bidang rangka batang. Sehingga beban pada konstruksi rangka batang hanya boleh bekerja pada titik simpul. Jika terjadi diluar titik simpul maka kemungkinan terjadi gagal konstruksi akan besar, maka pastikan bahwa setiap pertemuan web atau member bertemu pada titik simpul yang benar. Untuk menghindari kegagalan struktur karena kondisi kritis pada saat erection dan pemasangan genteng tidak ada salahnya berkoordinasi dengan semua pihak yang terlibat mulai dari kontraktor/owner dan aplikator baja ringan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Leave a Reply