Teknik Sipil Go Green

“Bumi ini cukup untuk kita semua, tetapi tidak untuk satu orang yang serakah” (Mahatma Gandhi)

Climate Change dan Pemanasan Global sudah mulai akrab ditelinga kita dan hampir tiap hari bisa kita temukan baik di koran, majalah, TV, internet, billboard, poster, spanduk maupun di tempat-tempat umum lainnya seperti di mall, pasar, terminal, pusat rekreasi, kantor, sekolah, dll. Perubahan iklim (climate change) adalah gejala naiknya suhu permukaan bumi akibat naiknya intensitas efek rumah kaca yang kemudian menyebabkan terjadinya pemanasan global. Kenaikan suhu udara ini dipicu oleh semakin tingginya kadar Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer, diantaranya oleh CO2 yang banyak dihasilkan dari aktivitas manusia seperti kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (mis: minyak, gas, batubara) yang banyak digunakan untuk industri, transportasi, rumah tangga, pembangkit, dll. Menurut para ahli, dalam waktu 70 tahun sejak tahun 1940 suhu udara rata-rata di bumi diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 0,50 C. Pemanasan global akan mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub, kemudian gelombang panas akan mengacaukan iklim dan menimbulkan badai dahsyat yang dapat memporakporandakan bangunan di berbagai kota.

Teknik sipil menuju era baru bernama Go Green, tidak ada yang aneh dengan kata Go Green yang melekat di judul atas! Istilah Go Green, rasanya semua sudah mengetahui bahwa hakekatnya Go Green adalah mengajak untuk peduli lingkungan. Gerakan lingkungan yang nge-pop jauh dari hingar bingar demonstrasi berteriak-teriak menuntut pemerintah mengadili perusak lingkungan, atau demonstrasi lain yang lebih berbeda dan unik.

Go Green dalam media sosial dan lingkungan lebih ditujukan seperti kepada para eksekutif, anak-anak muda serta anak-anak kecil. Ajakan untuk Go Green ini disampaikan dalam beberapa paket termasuk bahkan dalam label produk, dalam even dan dalam gaya hidup lainnya. Pelabelan Go Green itu ada yang benar-benar Green ada yang pseudo-green (gerakan lingkungan palsu seolah-olah gerakan lingkungan padahal tidak ada).

Selama ini, sebenarnya konsep konstruksi hijau sudah mulai diterapkan secara parsial oleh pelaku jasa konstruksi di Indonesia. Penerapan intelligent building system atau sistem bangunan cerdas, misalnya, memiliki prinsip-prinsip dasar yang sama dengan konstruksi hijau, yakni: efisiensi penggunaan energi. Bahkan, sebenarnya nilai-nilai konstruksi hijau sudah mulai lama diterapkan, meskipun belum dilakukan secara massal.

Pada prinsipnya, konstruksi hijau merupakan respon dari keresahan warga dunia terhadap percepatan penurunan daya dukung bumi akibat laju eksploitasi yang semakin menggila. Kehidupan warga dunia yang semakin modern ternyata berimbas pada kebutuhan energi yang juga semakin meningkat. Juga, kebutuhan atas berbagai material hasil bumi untuk kebutuhan industri. Akibatnya, cadangan berbagai bahan tambang yang menjadi bahan baku penggerak energi seperti minyak bumi pun semakin menipis. Bahkan, khusus pada sektor konstruksi, kebutuhan terhadap kayu sebagai bahan bangunan dan furniture juga dituding sebagai hulu dari fenomena kerusakan hutan di berbagai pelosok dunia. Kombinasi antara gas emisi hasil buangan pembakaran BBM dan daya dukung vegetasi alam untuk menetralisir polusi udara yang semakin menurun itulah, kemudian, yang memicu munculnya pemanasan global (global warming).

Green Building

Green building bukanlah sekedar bangunan hijau yang didominasi tanaman di sekitar lingkungannya, namun green building lebih mengacu pada aspek – aspek penghematan energi, hemat air bersih, hemat material bangunan, dan hemat lahan. green building merupakan upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya secara efisien selama daur hidup bangunan sejak perencanaan, pembangunan, operasional, pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran.

Di Indonesia, terdapat sebuah lembaga penilai tingkat “green” suatu bangunan yaitu Green Building Council Indonesia, menyebutkan bahwa konsep bangunan hijau adalah bangunan dimana di dalam perencanaan, pembangunan, pengoperasian serta dalam pemeliharaannya memperhatikan aspek–aspek dalam melindungi, menghemat, mengurangi pengunaan sumber daya alam, menjaga mutu baik bangunan maupun mutu dari kualitas udara di dalam ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan.

Definisi Green Construction adalah proses untuk menghasilkan suatu bangunan dengan prinsip ramah lingkungan, penggunaan sumber daya (alam/energi,dll) secara efisien, dengan memperhatikan segala aspek seperti tata ruang agar mutu dari kualitas udara di dalam ruangan tetap terjaga, penggunaan material yang mudah terbarukan, tetap menjaga mutu bangunan dan memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan.

Selamat datang era Teknik Sipil Go Green, semoga menjadi awal untuk memancing gerakan lingkungan lainnya yang lebih massive, lebih dinamis dan lebih nyata. Bermula dari tulisan lalu menjadi sebuah karya nyata untuk bumi yang rapuh ini. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi. “Bumi ini cukup untuk kita semua, tetapi tidak untuk satu orang yang serakah”, demikian kata Mahatma Gandhi. Pesan yang sangat dalam untuk kita agar menggunakan sesuai kadarnya, tidak berlebihan dan tidak serakah tentu saja. (diolah dari berbagai sumber)

oleh: iden Wildensyah

Leave a Reply