Ilmusipil.com Media Berbagi Ilmu Teknik Sipil dan Arsitektur

sipil Sarjana Teknik sipil bisa menjadi Arsitek

Apakah alumni sarjana teknik sipil bisa menjadi arsitek? ini merupakan pertanyaan yang mungkin banyak dihadapi para Insinyur bangunan yang dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat lebih mengenal profesi Arsitek dibanding Teknik sipil. ini adalah sebuah contoh curhat dari seorang lulusan Sarjana S1 teknik sipil yang kebetulan lebih menyukai arsitektur, mari kita simak.

 

Curhat teknik sipil

Nama dirahasiakan : Assalamualaikum, Mohon pencerahan, saya seorang sarjana teknik sipil yang berpengalaman kurang lebih 3 tahun. kebetulan bekerja di konsultan, dulu sewaktu kuliah sebetulnya saya mempunyai minat yang dominan lebih ke arsitek, tetapi saya lanjutkan untuk lulus s1 sarjana sipil karena takut mengecewakan ortu saya.

Hingga pada akhirnya saya coba terus berkarir dibidang teknik sipil tetapi seiring berjalannya waktu, saya separti setengah-setengah menjalani karir saya.

Dalam hati kecil saya selalu berbicara bahwa “passion” saya di bidang arsitek saya suka gambar-gambar visual, musik, art, desain interior. walaupun saya lulus Teknik sipil dengan IPK diatas 3, tapi ternyata saat itu secara tidak sadar vision saya hanya mengejar nilai, hingga pada saat aplikasi dilapangan nilai itu tidak berarti apa-apa karena dorongan passion itu begitu kuat.

Maaf sebelumnya mungkin tidak tepat untuk saya sharing tentang ini, tapi mudah mudahan saya dapat beberapa masukan dari orang-orang yang saya kira akan ada masukan bagus, terima kasih sebelumnya. salam sukses. wasalam

 

Jawaban

Sebelumnya kita ucapkan terimakasih kepada yang telah memberikan pertanyaan diatas ( nama dirahasiakan ), karena pertanyaan tersebut mungkin banyak dihadapi oleh teman-teman kita yang lain, pada intinya dapat disingkat menjadi “Apakah alumni Sarjana teknik sipil bisa menjadi Arsitek? jawabanya tentu saja bisa. abaikan saja pola pikir masyarakat umum dan peraturan pemerintah yang sekiranya menghambat terwujudnya cita-cita selama harapan itu masih dalam kategori baik. Semangat mencari ilmu baru dan melakukan coba-coba pasti membuat alumni teknik sipil menjadi arsitek yang lebih hebat dari alumni arsitek sebenarnya, karena selain menguasai ilmu arsitektur juga sudah punya dasar teknik sipil bagus, berikut ini beberapa ilmu yang perlu diperdalam untuk mewujudkan cita-cita tersebut :-)

 

Cara Agar alumni Teknik sipil bisa menjadi Arsitek

Sangat mudah namun mungkin cukup sulit untuk melakukan kecuali benar-benar mempunyai tekad yang kuat dan keyakinan tinggi bahwa bisa berhasil.

  1. Belajar ilmu arsitektur secara mandiri, ikut kursus atau kuliah lagi mengambil jurusan teknik arsitektur. ilmu yang dipelajari seperti teknik gambar bangunan, teknik perencanaan dan ilmu lain yang bermanfaat.
  2. Bekerja diperusahaan yang bergerak dibidang arsitek, karena guru paling berharga adalah pengalaman. disana proses belajar mengajar bukan hanya sebatas bahasa dan kata-kata namun berupa contoh langsung.
  3. Banyak berdoa kepada Tuhan YME yang tahu mana jalan terbaik bagi setiap ciptaanya, bisa jadi ia tidak memberikan yang kita inginkan namun pasti memberikan apa yang kita butuhkan. ingat tidak ada selembar daun jatuhpun kecuali sudah direncanakan oleh Tuhan. setiap planet berjalan pada orbitnya, bumi berputar pada porosnya, atom berputar  mengelilingi inti atom, begitu juga manusia punya takdir tersendiri.
  4. Melakukan promosi bahwa sebagai sarjana teknik sipil bisa melakukan pekerjaan sebagai arsitek.
  5. Membuka usaha dibidang arsitektur, ketika menjadi pengusaha maka diri manusia diperluas. maksudnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh diri sendiri bisa meminta bantuan kepada orang lain seperti merekrut karyawan atau membuka lowongan arsitek freelance.
  6. Banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan tergantung semangat, kreatifitas dan keyakinan kuat dalam mewujudkan apa yang menjadi harapan.

 

Jadi apakah sarjana teknik sipil bisa menjadi arsitek? Bagi teman-teman lain yang hendak memberikan masukan berbeda, menambahkan jawaban yang sudah ada atau bahkan mengkritik jawabanya bisa ditulis disini :-)

  1. Arsitek VS Teknik Sipil – Antara imajinasi dan hitungan
  2. Berbagai Motif Keramik Untuk gambar 3 dimensi
  3. Cara menghitung kebutuhan keramik
  4. Mengenal Material Pintu Kamar Mandi
  5. Analisa harga dan bahan pekerjaan plafond
  6. Batu Alam Pada Dinding dan Lantai
  7. desain atap kontemporer
  8. perencanaan bangunan bertingkat
  9. Desain Ruang kerja
  10. Arsitek VS Drafter mana yang lebih ahli dan pintar
  11. MELIPAT KERTAS GAMBAR A3
  12. Hiasan uang mahar maket masjid mini
  13. buku Arsitektur dan Perilaku Sosial
  14. Arsitektur rumah 2 lantai
  15. membangun kota laut dengan robot
  16. Ramalan masa kejayaan Indonesia
  17. Pekerjaan dinding keramik
  18. Teknik Arsitektur UI
  19. Rumah ini bagus, siapa Arsiteknya? Teknik sipil

26 Responses to “Sarjana Teknik sipil bisa menjadi Arsitek”

  1. syamsuddin halim says:

    Saya sependapat…oleh teman kita yang sudah menjawab dengan sangat benar…namun kalau boleh sedikit saya menambahkan : teman harus memahami, menyadari, dan membenarkan sebuah pendapat yang sering saya jadikan pedoman selain dari kandungan al-qur’an (sebagai penaganut muslim) yaitu ..kita tidak harus, tidak semestinya sukses sesuai dengan beground pendidikan kita masing2 karena kita sepakat bahwa yang mengatur masalah rezki kita adalah Allah swt (tuhan yang maha Esa) jadi apapun yang bisa jadi peluang kita untuk meraih kesuksesan maka…silahkan jalankan…sebagaimana orang2 yang telah sukses mengaplikasikan sebuah teori yang berbunyi : apa yang kita fikirkan secara terus menerus secara otomatis akan dikelola oleh alam bawah sadar kita dan alam sekitar akan merespon maka tuhan akan mengizinkan (kun fayakun)..buktikanlah……

  2. Rahwana says:

    Saya kurang sependapat dengan tulisan penulis karena alasan berikut:

    1. Curhat tersebut tidak bisa hanya kita simpulkan dengan sebuah perntanyaan “apakah seorang insinyur sipil dapat menjadi seorang arsitek?” ini sebuah pernyataan yang menurut saya agak dangkal dalam melihat suatu permasalahan. arsitek adalah hal yang berbeda dengan seni. arsitek adalah perpaduan antara ilmu dan seni. kita tidak bisa menggampangkan begitu saja soal ilmu arsitek ini. saya adalah seorang engineer civil dan saya memandang semua ilmu memiliki keunikan tersendiri dan tidak dapat menjadi dasar untuk menilai mana yang lebih tinggi atau rendah. jika kita berpikir arsitek adalah hanya soal menuangkan ide dalam gambar, itu sesuatu yang salah besar. bagaimana membuat rumah yang nyaman dan memiliki tata ruang yang maksimal secara fungsional adalah bukan perkara yang mudah. apalagi harus mengcompare-nya pada suatu harga yang terbatas. seperti halnya seorang tukang bisa saja menjadi orang sipil yang dapat membangun rumah yang aman dan kokoh, yaitu dengan membuat pondasi yang lebar, kolom yang besar dan disertai tulangan yang cukup. tapi seorang engineer lebih daripada itu. seorang engineer mempunyai kelebihan dalam hal efisiensi, ekonomi, teknis, dll.

  3. Rahwana says:

    Jika hanya untuk menjadi arsitek-arsitekan, semua orang pasti bisa. Tapi jika ingin menjadi arsitek sungguhan yang memiliki kualitas yang baik, tidak semua orang mampu. Selain harus memiliki passion juga harus menimba ilmu. Memang tidak ada yang ideal di dunia ini. Jika hidup itu selalu ideal, maka tidak akan orang susah di dunia ini. Syukuri apa yang telah kita perjuangkan. Dunia kerja sipil itu sebenarnya dunia kerja yang lebih baik daripada arsitek dalam urusan salary. Carilah perusahaan2 EPC atau perusahaan tambang dan perusahaan minyak, disana anda akan dihargai dengan gaji yang sangat tinggi. Anda akan bersyukur telah mengambil jurusan civil jika mengetahui hal ini.

  4. Rahwana says:

    jadikan minat anda sebagai arsitek sebagai suatu kelebihan pada hasil kerja anda. tidak banyak orang civil yang mampu menggambar dengan baik atau membuat desain gambar yang bagus dan menarik. jika anda mempunyai kelebihan di sini, berikan servis yang memuaskan pada klien2 anda dengan membuat ilustrasi2 yang menarik dalam menyajikan laporan perhitungan struktur ataupun pondasi. tidak jarang seorang civil akan menyerahkan pekerjaan gambar kepada drafter (dengan membayar). tapi jika anda bisa menjadi drafter itu sendiri, bukankah biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar drafter bisa anda simpan sendiri? dunia civil dan arsitek itu sangat berkaitan. temukan ilmu2 arsitektural yang dapat membantu pekerjaan civil anda sehingga anda mendapat nilai lebih dibandingkan engineer2 civil lainnya.

  5. Rahwana says:

    2. Saya tidak setuju dengan pernyataan: “ingat tidak ada selembar daun jatuhpun kecuali sudah direncanakan oleh Tuhan”.
    hei, apakah seseorang menjadi perampok adalah rencana Tuhan?… Halooo?… tidak ada apapun terjadi kecuali atas izinNya… benarkah? jika begitu yang terjadi, maka banyak nyawa tak berdosa meninggal adalah hasil dari rencana Tuhan. kekejaman dan ketidakadilan di dunia pun adalah hasil dari rencana Tuhan. Bukan begitu?… ya… jika tuhan menjadi salah satu juru kunci terakhir atas izin terjadinya suatu kejadian dibawah rencanaNya… <:-) merencanakan dan memberi izin?.. bukankah hal yang kontradiktif… <:-) sudah membuat rencana matang tapi minta izin ke diriNya sendiri untuk mewujudkan rencanaNya sendiri?… <:-)

    hey dude, apapun yang terjadi pada dirimu adalah karena perbuatanmu sendiri. jangan kambinghitamkan Tuhan dalam hal ini. Jika kau menjadi perampok atau pendosa adalah karena dirimu sendiri, bukan karena rencana Tuhan. Begitu juga ketika kau menjadi orang yang baik, jujur, dan adil. Itu karena akal sehat dan hati nuranimu dapat berjalan selaras sehingga mampu mendengarkan dan mewujudkan ajaran2 Tuhan. Oke!

    1. roy says:

      KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA TAKDIR
      الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَجَعَلَ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدَرًا وَأَجَلاً مُطَابِقًا لِعِلْمِهِ وَحِكْمَتِهِ وَهُوَ الْحَكِيْمِ الْخَبِيْرِ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه فِي اْلأُلُوْهِيَّةِ وَالْخَلْقِ وَالتَّدْبِيْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ وَالْمَصِيْرِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا؛
      أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَآمِنُوْا بِهِ، آمِنُوْا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ وَمَشِيْئَتِهِ وَخَلْقِهِ
      Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
      Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dan beriman kepada-Nya serta kepada seluruh ketetapan dan takdir-Nya. Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman yang enam, sehingga seseorang tidaklah dikatakan beriman hingga dirinya beriman kepada takdir.

      Ketahuilah bahwa untuk mewujudkan iman kepada takdir, seseorang harus mengimani empat hal.
      Yang pertama, mengimani bahwa Allah l Maha Mengetahui segala sesuatu. Semua yang ada di langit dan di bumi tidak ada yang tersembunyi bagi Allah l. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Segala kejadian, yang besar ataupun yang sangat lembut, baik sebelum terjadi, ketika terjadi, maupun setelahnya, semua diketahui oleh Allah l. Demikian pula, Allah l mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya, baik yang dilakukan terang-terangan di depan orang, secara sembunyi-sembunyi maupun yang di dalam hati. Tidak ada yang terluput dari ilmu Allah l.
      Hal yang kedua, yang harus diimani adalah bahwa Allah l telah menulis takdir dan ketetapan segala sesuatu tersebut di dalam al-Lauhul Mahfuzh. Allah l telah menyebutkan kedua hal ini dalam firman-Nya:
      ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ ﰍ
      “Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)
      Begitu pula disebutkan dalam firman-Nya:
      ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ
      “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)
      Bahkan, penulisan ketetapan atau takdir tersebut telah terjadi 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits:
      كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
      “Allah l telah menulis ketetapan dan takdir para makhluk semenjak lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim)
      Apabila terjadi suatu musibah pada diri seorang hamba, dia wajib untuk bersabar dan menerima ketetapan Allah l terhadap dirinya, karena apa yang telah ditetapkan pasti akan terjadi dan tidak ada seorang hamba pun yang bisa menahan atau menolaknya. Oleh karena itu, ketika tertimpa musibah atau kesulitan, seseorang harus menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya telah ditetapkan oleh Allah l. Dialah satu-satunya yang menguasai dan mengatur segala urusan makhluk-Nya. Dengan demikian, seseorang akan ridha Allah l sebagai Rabb-nya, tidak ada sesembahan selain-Nya. Ia pun ridha dengan ketetapan dan takdir-Nya. Sikap seperti ini akan membawa seseorang mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Di dunia akan mendapatkan kelapangan dada dan kemudahan untuk menerima beratnya musibah, sedangkan di akhirat ia akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat. Allah l berfirman:
      “Dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (at-Taghabun: 11)
      Al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Maksudnya, barang siapa terkena musibah dan meyakini bahwa musibah tersebut adalah ketetapan dan takdir dari Allah l sehingga dia bersabar dan mengharapkan pahala serta menerima ketetapan Allah l, Allah l akan memberikan hidayah kepada hatinya dan mengganti apa yang luput dari dunianya. Ia diberi hidayah pada hatinya berupa keyakinan yang sebenar-benarnya.”
      Dalam ayat yang lain Allah l berfirman:
      “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)
      Adapun orang yang tidak menerima ketetapan Allah l, akan terasa sempit dadanya. Ia tidak akan merasakan kelezatan iman. Oleh karena itu, sahabat Abdullah ibnu Shamit z berkata kepada putranya:
      يَا بُنَيَّ، إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
      “Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan merasakan nikmatnya hakikat iman hingga engkau meyakini bahwa apa yang (telah ditetapkan) akan menimpamu, pasti tidak akan meleset darimu. Apa yang (telah ditetapkan) tidak mengenaimu, pasti tidak akan menimpamu.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dihasankan asy-Syaikh al-Albani)

      Di samping telah ditulis ketetapan makhluk secara keseluruhan hingga hari kiamat di al-Lauhul Mahfuzh, ketetapan Allah l terhadap makhluk-makhluk-Nya juga ada yang ditulis dan ditetapkan setiap tahun, yaitu takdir yang ditulis dan ditetapkan pada setiap malam qadar (lailatul qadar). Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:
      “Pada malam itu (lailatul qadar) ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah.” (ad-Dukhan: 4)
      Di samping itu, ada pula ketetapan Allah l yang ditulis pada masing-masing manusia selama masa hidupnya di dunia. Takdir ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah ibnu Mas’ud z yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya. Takdir itu ditulis ketika seseorang masih dalam bentuk janin dalam rahim ibunya setelah 120 hari dalam kandungan.

      Hal ketiga yang harus dipenuhi dalam mewujudkan iman kepada takdir adalah mengimani kehendak Allah l pada setiap yang terjadi dan kemahakuasaan Allah l terhadap segala sesuatu. Segala yang Allah l kehendaki pasti akan terjadi, sedangkan apa yang Allah l tidak kehendaki, tidak akan terjadi. Dengan demikian, apa yang dikehendaki oleh seorang hamba tidak akan terjadi melainkan jika Allah l menghendakinya. Allah l berfirman:
      “Dan kalian tidak akan bisa mewujudkan apa yang kalian kehendaki, melainkan jika Allah menghendakinya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Insan: 30)
      Dari ayat tersebut kita memahami bahwa mengimani kehendak Allah l pada setiap yang terjadi tidak berarti meniadakan adanya kehendak manusia. Bahkan, Allah l telah menjadikan manusia memiliki kehendak dan kemampuan sehingga mampu memilih mana yang baik atau bermanfaat lalu menjalankannya, serta mampu memilih mana yang berbahaya bagi dirinya lalu meninggalkannya. Oleh karena itu, seseorang akan mendapatkan pahala dari kebaikan yang dilakukannya dan akan mendapatkan hukuman karena melakukan kemaksiatan.
      Jelaslah bahwa beriman kepada takdir bukan berarti membolehkan seseorang untuk hanya bersandar kepada takdir tanpa melakukan usaha. Namun, Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beramal saleh yang merupakan sebab mendapatkan kebahagiaan. Allah l juga melarang perbuatan kemaksiatan yang akan menyebabkan kebinasaan. Allah l berfirman:
      “Barang siapa membawa kebaikan, ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari (amal kebaikan)nya dan mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari kejadian yang dahsyat pada hari itu (kiamat). Barang siapa membawa kejahatan, disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tidaklah kalian dibalasi melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (an-Naml: 89—90)
      Masalah keempat yang harus dijalankan untuk mewujudkan keimanan kepada takdir adalah mengimani bahwa Allah l adalah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi. Allah l berfirman:
      “Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah satu-satunya yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (ar-Ra’d: 16)
      Oleh karena itu, tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi, besar ataupun kecil, bergerak atau diam, melainkan diciptakan oleh Allah l.
      Akhirnya, mudah-mudahan Allah l senantiasa menetapkan kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat.
      فَنَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلْيَا أَنْ يُقَدِّرَ لَنَا بِفَضْلِهِ مَا فِيْهِ صَلاَحُنَا وَسَعَادَتُنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، إِنَّهُ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى عَبْدِهِ وَنَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

      Keimanan seseorang terhadap takdir menunjukkan benarnya keimanan seseorang dan kesempurnaan dirinya dalam mengimani seluruh rukun iman yang enam. Di samping itu, beriman kepada takdir menyebabkan seseorang menjadi tenang dan tidak mengucapkan atau melakukan perbuatan yang menunjukkan ketidaksabaran terhadap musibah yang menimpanya. Begitu pula, dirinya tidak membangga-banggakan dan sombong dengan kenikmatan yang diperolehnya hingga lupa bersyukur kepada Allah l, atau merasa aman dari hukuman Allah l yang ditunda atau yang datang tanpa diduga-duga.

      Setiap orang tentu dalam kehidupannya akan menjumpai hal-hal yang menyenangkan dan yang menyedihkan. Dengan keimanannya kepada takdir, seseorang menjadikan masa senang dan bahagianya untuk bersyukur, serta menjadikan saat bersedih untuk bersabar. Namun, tentu saja dengan keimanannya kepada takdir, seseorang harus mencari sebab dan melakukan usaha. Hanya saja, dirinya harus siap menerima kenyataan yang telah ditetapkan ketika tidak memperoleh apa yang diharapkan, dalam rangka menjalankan sabda Nabi n:
      احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
      “Bersungguh-sungguhlah engkau dalam melakukan apa yang bermanfaat untuk dirimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan malas. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu akan demikian dan demikian.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.’ Adapun kata ‘seandainya’ akan membuka pintu bagi setan (agar engkau tidak menerima takdir).” (HR. Muslim)
      Mudahan-mudahan Allah l menjadikan kita sebagai orang-orang yang senantiasa menerima dan ridha dengan ketetapan serta takdir-Nya.

  6. original kreasi says:

    HALLO INI BLOG NYA ILMUSIPIL BUKAN YAAA ????

  7. original kreasi says:

    HIDUP ADALAH PILIHA
    Dan kita adalah manusia yang di berikan lelebihan oleh Samg Pemcipta yaitu akal dan pikiran yang sehat.Jadi selama karunia tersebut kita gunakan dengan MAKSIMAL pasti apa yang kita sedang usahakan pasti akan tampak hasilnya.Terlepas kita akan SUKSES ATAU TIDAK itu bukan MASALAH tetapi itu TANTANGAN dan disaat kita GAGAL bukan berarti TUHAN tidak mereztui kita ataz apa yg kita pilih mungkin saja itu UJIAN KITA untuk bersabar dan ldbih giat lagi.
    Jika seseorang ingin menjadi sesuatu misalnya ARSITEK pazti INGIN MENJADI seorang ARSITEK YANG MUMPUNI bukan seorang ARSITEK- ARSITEKAN.Selama kita TEKUN DAN FOKUS apa yang kita inginkan Insya Allah kita akan berhasil.Di dunia apa pun mungkin bisa kita lakukan selama kita masih mempunyai KEINGINAN Kecuali satu kita tidak bisa lakukan yaitu MENCIPTAN ALAM SEMESTA & RUH/ NYAWA- itu hanya milik PENCIPTA SESUNGGUHNYA.
    Berrsyukurlah bagi orang-2 yang MASIH PUNYA KEINGINAN dan Semoga kita semua SUKSES ataz apa yang kita INGINKAN

    Salam POSITIVE THINKING

  8. Afret Nobel, ST, mm, phd. says:

    Sesuai banget dg jalan hidup gw. waktu smk gw ambil jurusan gambar bangunan karena pengen jadi arsitek. dari kecil emang udah keceplosan pengen jadi arsitek, walau belum terlalu dalam mengerti apa itu arsitek. setelah lulus dari smk, ada undangan dari D3 ugm, tapi cuma ada jurusan teknik sipil dll, gak ada D3 arsitek. akhirnya sampai sekarang saya jadi ST sipil. skrg kerja di konsultan arsitek sgb perencana struktur. wkwkwkw

    http://www.laporantekniksipil.wordpress.com

  9. no name says:

    saya masih bingung neh pengen jadi arsitek atw teknik sipil..hati masih bimbang..dulu stm ambil tek gambar bangunan gedung dan nilainya paling bagus sedangkan setlh bekerja saya ingin sekali mendaprkan salary yg besar dan bisa bekerja dimna pun..sedangkan masalah matematika saya agak kurang nilainya..saya saat ini sdh memasuki semester ke 2 di fakultas teknik arsitektur…mohon kiranya saya dptkan solusi dr kakak2 senior..makasih ya..sukses selalu buat kalian.

    1. Jessica says:

      Great information This is very nice. The watch this riasilateon written copy and we are bowled over. We are attracted to one of these jobs. Nutritionists appreciate your old advice, and value for money doing while in this. Please keep editing. They may be astonishingly

    2. Windy says:

      Laptop Repair The things i have cltnnastoy told persons is that when searching for a good online electronics store, there are a few elements that you have to think about. First and foremost, you need to make sure to locate a reputable and in addition, reliable retai

  10. yohanes c says:

    sy lulusan sipil dan lmyn berpengalaman bbrp tahun di bidang sy. Sy ingin melanjutkan S2 dengan jurusan ilmu arsitektur. alasan sy,… krn 1. Jasa arsitek sangat mahal. 2.Sy sering beradu argument soal disain/konsep versus analisis perhitungan (imaginasi versus kenyataan). Sy ingin merubah itu semua, gk peduli dengan ketenaran, idealis dan yang pasti klien memahami kebutuhan klien2 saya. Wish me luck….

  11. Alfon says:

    Ironis, menggampangkan ilmu arsitektur.
    Sebenarnya sah saja siapapun jadi arsitek. Tapi ingat, bekerja di bidang arsitektur bukan sekedar bisa gambar dan mengerti kebutuhan klien, apalagi sekedar bisa me-render dah disebut arsitek.
    Ada “passion” disana, “sense”, kemampuan menggabungkan banyak ilmu untuk menginterpretasikan ruang, berkonsep, dan kadang di sisipkan strategis bisnis & perhitungan BEP (untuk bangunan komersial). Karena itu arsitek dianggap “leader” di setiap pekerjaan bangunan.
    Sejauh yang saya pahami, diskusi dengan klien soal desain arsitektur mungkin hanya 10 sampai 15% dari seluruh pembicaraan. Momentum yang pas juga jadi cara arsitek untuk mengungkapkan desain & idealismenya. Belum lagi soal pembawaan, aura atau kharisma arsitek yang tidak dipunyai setiap orang…

  12. Iwan wonogiri says:

    Assalamu’alaikm, mungkin aktifitas saya sebagai sarjana teknik sipil ini bisa menjadi referensi teman-teman arsitek maupun engineer.
    Riwayat pendidikan; STM Gambar Bangunan, S1 Teknik Sipil, S2 Teknik Sipil
    Aktifitas; Dosen Teknik Sipil, Guru SMP dan SMK, Peneliti, Tenaga Ahli Perencanaan P2KP, Tenaga Ahli Fraksi DPRD Wonogiri, Mengelola Klinik Gratis PKPU Peduli Umat Kab. Wonogiri, staff Perencanaan YPIT Al Huda, dan Tenaga Pemasaran P2KP, Pengelola Jurnal Online, Anggota Badan Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi, Mengajar di pesantren dan sekarang sedang belajar menghafal Al-qur’an, saat ini merencana dan melaksanakan pekerjaan; Gedung BMT, TKIT, Markas Da’wah Wonogiri, Asrama Pesantren, dan Kawasan Pertanian & Perikanan Terpadu. Alhamdulilah semua kegiatan bisa dilaksanakan dengan membagi waktu sebaik-baiknya, meskipun saya akui tidak fokus, namun saya berusaha profesional dan Alhamdulilah sebagian besar kegiatan yang saya lakukan tidak dibayar alias mewakafkan diri untuk dakwah dan umat. dan hasilnya Allah ganti dengan sumber-sumber yang lain yang tidak saya dapat duga; misal lolos penelitian dan pengabdian tingkat nasional yang dibiayai 300jt dan lain sebagainya. Meskipun dunia saya teknik sipil tapi saya juga sangat meminati dunia arsitektur, pertanian bahkan pemberdayaan masyarakat, semuanya saya lakukan semampunya demi mendapatkan keridhaan Allah Swt. Semoga Allah senantiasa meluruskan niatku, Amiiin. (Alhamdulillah saya tidak menggeluti dunia proyek2 pemerintahan)

  13. suyoto says:

    gak apa apa klo itu sudah jadi kesukaan dan keinginan arsitek itu bagus.jutsru saya kebalikannya ,aku sedang kuliah arsitektur tapi besik saya di lapangan logistik dan penghitungan kebutuhan semuanya (bukannya itu masuk sipil tapi dalam niat dan sesukaan cita cita ingin menjadi arsitektur yg baik berguna buat keluarga .terimakasih sebelumnya

  14. mamat says:

    yang saya suka dari arsitektur itu, bagaimana menciptakan suatu karya seni lewat bangunan dengan menghitung secara fisika, khukhukhu

    cek disini,banyak contoh arsitektur eksterior maupun interior
    http://www.edupaint.com

  15. she........... says:

    wah,,,,,,,,,saya juga sama dengaan anda.saya juga ngebet banget pingin masuk arsitek,tapi Alloh berkehendak lain.saya tidak diterima dijurusan arsitektur,ortu saya juga kurang setuju kalo saya jadi arsitek.katanya saya ini cewe jadi kurang pas kalo dibidang itu yang mana sering kerja malem2,lembur dll(padahal kerja apapun pasti akan mengalami lembur) :P
    trus akhirnya aku diterima di jurusan pend.teknik bangunan,mlenceng skali dari keinginan saya.saya sama skali tidak minat jadi guru…..
    tapi setelah saya pikir2 ambil hikmahnya aja,toh jadi gurupun nanti saya masih bisa tetap berkarya dengan bidang apa yang saya suka kok.saya bisa memperdalam ilmu arsitektur jika saya nanti bekerja dan memiliki banyak referensi dengan belajar otodidak,tanya temen,browsing dll.sekaligus saya nanti bisa berbagi ilmu saya kepada murid2 saya nanti.bukankah itu saya mendapatkan nilai lebih?asal kita mau usaha pasti kita dapatkan apa yang kita mau………
    semangat,semua itu butuh proses meskipun proses itu menjalaninya tak semudah berbicara teorinya :)

  16. bram says:

    saya mau tanya mz,, terus kalu arsitektur tu bisa msuk ke teknik sipil juga gak
    apa aja yang di perlukan
    .. tolong bantuannya ya,,,,,

  17. Pebri says:

    Min aku juga punya kasus mirip kayak saudara diatas..

    Menurutku bisa bisa aja sih min..
    tapi kendala kami yang udah lulus ini kami gak tahu kemana kami harus melangkah..
    misalnya:
    1.melanjut kuliah jurusan s2–>kemana kami gak tahu link dan infonya
    2.kerja di perusahaan arsitektur–>gak tahu juga linknya

    bisa bantu linknya gak min?thank u

  18. Erza Shinta Faradia says:

    wah, itu pertanyaan sama sekali dengan keadaan saya sekarang. Saya sangat berminat di arsitektur, tapi orang tua lbh menyarankan saya di teknik sipil, jd saya mngambil teknik sipil. Saya bingung apakah ilmu arsitektur dan teknik sipil itu jauh berbeda atau tidak.

  19. Anonymous says:

    kalo org sipil jadi arsitek kemungkinan bisa, cuma mungkin terbatas untuk rumah2 tinggal saja, cuma org sipil yg jadi arsitek desainnya kaku dan kurang bermakna jika dilihat. Desain rumah tinggalpun sering tidak "berbicara/membahasa secara khusus", karena desain arsitektur itu adalah art yg bisa berbahasa dan berbicara, bernada spt lagu2. Kalo menurut aku : lbh sulit org sipil belajar arsitek dibanding org arsitek belajar sipil, krn teknik sipil mrpkan ilmu pasti & sangat2 bisa dipelajari. Spt sy background aku arsitek ttp krn sngt sejak SMA sangat senang dng ilmu pasti, maka secara otodidak cukup paham untuk ngitung konstruksi beton baja dan takabeya dgn dibantu SAP2000, juga cukup paham perhitungan gempa sni 2002, cuma yg belum paham adalah mekanika tanah (lagi belajar nih). Aku belajar itu semua sejak masih kuliah sampai skrg (25 thn lebih) krn stlh ngitung diterapkan hasilnya ok rasanya puas bukan main. Skrg aku arsitek yg paham sipil (shg dak mungkin dikadalin org sipil) he…..3x.

  20. fajar says:

    Kalau pendapat saya, ada 2 kemungkinan :

    A. Untuk yang telah lulus sipil dan tidak belajar lagi.
    Bagi yang seperti ini, saya berpendapat susah untuk menjadi arsitek. Hal ini karena ilmu yang dipelajari memang beda dengan bidang yang ingin ditekuni. Saya rasa jelas ya karena lain yang dipelajari dan lain yang dipraktekkan contohnya orang yang belajar nyetir secara manual saja kadang-kadang tidak bisa nyetir metik, padahal instrumennya lebih sederhana.

    B. Untuk Alumni Sipil yang mau belajar lagi.
    Nah, untuk yang tipe demikian saya yakin bisa. Soal sukses atau tidak sesuai dengan tingkat profesional masing-masing. Tapi dengan mau belajar, apalagi belajar formal dan ambil pelajaran arsitek. Makin lengkap deh ilmunya. Hehe… dia kini jadi arsitek yang menguasai sipil. Wow…

    Demikian, pendapat saya…
    http://tukang88.com

  21. Batal Jadi Arsitek says:

    Sekedar bisa menggambar rumah tidak lantas menjadi arsitek. Lulus dari jurusan arsitektur, tidak serta merta menjadi seorang arsitek. Apalagi dari teknik sipil!! Ini persis seperti, bisa melukis, menari atau menyanyi tidak lantas membuat seseorang menjadi seniman. Arsitektur itu 90% seni dan 10% teknik. Di Indonesia saja menjadi teknik arsitekktur ….

    1. Blake says:

      %BLOGTITLE% There are actually a lot of deialts like that to take into consideration. That could be a great point to carry up. I provide the thoughts above as common inspiration but clearly there are questions like the one you convey up the place an important thin

    2. Tomasz says:

      carrelage sol Have you ever thought about pnhbisliug an ebook or guest authoring on other blogs? I have a blog based on the same information you discuss and would really like to have you share some stories/information. I know my viewers would enjoy your work. If you

Leave a Reply

Current ye@r *