RTH dan Kota Ramah

Pembangunan tata ruang wilayah dan lingkungan tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dan menunjang. Keterpaduan dalam perencanaan, pengelolaan maupun pemanfaatan antara tata ruang wilayah dan lingkungan selain menjaga keseimbangan pembangunan dengan alam, juga dapat mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat lokal. Pembangunan kota hendaknya membuat sebuah kota menjadi ramah terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat, bukan kota yang menjadi kaku, asing dan kejam.

Salah satu aspek kota ramah menurut Iu Rusliana adalah tersedianya ruang publik yang cukup bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak, penyandang cacat, dan orang tua. Ruang publik ini antara lain taman kota, tempat bermain, sarana olah raga, trotoar, gedung yang memenuhi prasyarat kesehatan dan keselamatan kerja, dan jalur sepeda (Kompas, 01/02/2009). Taman kota adalah bagian dari ruang terbuka hijau, keberadaannya semakin penting mengingat pertumbuhan pembangunan yang kian pesat. Taman kota membuat sebuah kota menjadi lebih manusiawi. Kota yang ramah menyediakan ruang interaksi sosial dalam bentuk ruang publik. Ruang publik ini yang akan menjadi perekat bagi tumbuhnya rasa kebersamaan dan kekentalan komunitas perkotaan.

Ruang publik yang selalu menjadi perhatian ini salah satunya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH). RTH adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan kota yang diisi oleh tumbuhan guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika. RTH dapat digolongkan sesuai dengan kegunaannya sebagai pembatas untuk pengamanan atau daerah konservasi yang terletak antara dua wilayah, seperti jalur lalulintas, sempadan sungai, kereta api, tegangan tinggi, hutan kota dan sarana lainnya, daerah rekreasi aktif seperti lapangan olah raga, taman bermain dan daerah rekreasi pasif seperti taman untuk melepas lelah, daerah produksi seperti daerah pertanian, pekarangan/halaman rumah atau suatu lahan yang sengaja disisihkan untuk kegunaan khusus misalnya area pemakaman umum (TPU) atau sebagai lahan cadangan (Srihartiningsih, 1995).

Jika menengok kebelakang sejarah Kota Bandung, dalam buku Haryanto Kunto (1986), sudah terdapat usaha membuat Kota Bandung menjadi kota taman. Pada masa kolonial, dalam rangka mewujudkan kota Bandung sebagai Tuin Stad atau kota taman, tahun 1929 dibuat Plan Karsten didalamnya disebutkan bahwa standar khusus ruang terbuka dalam bentuk taman adalah 6,7 m2/orang. Sementara hasil penelitian Thomas Nix pada masa pemerintahan Belanda tahun 1941, menyebutkan bahwa standar kebutuhan taman di Bandung adalah 3,5 m2/orang. Sedangkan berdasarkan standar dari Departemen PU Cipta Karya tahun 1987, kebutuhan RTH taman berkisar antara 0,2 – 1 m2/orang.

Kebutuhan RTH

Menurut Badan Pusat Statistik Kota Bandung tahun 2005, jumlah penduduk Kota Bandung saat ini mencapai 2,5 juta jiwa, dengan pertambahan jumlah penduduk sekitar 3,48% per tahun (1,08% pertumbuhan alami dan 2,40% akibat urbanisasi). Wilayah Kota Bandung terbatas hanya seluas 16.729 ha (BPS Kota Bandung, 2005). Jika melihat perbandingan ini berarti seharusnya kota Bandung memiliki ruang terbuka hijau berupa taman kota dan kompleks stadion seluas 340,65 ha, pemakaman seluas 131,72 ha, hutan kota 1.362,58 ha dan jalur hijau seluas 3.406,46 ha.

RTH ini diperlukan untuk menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan. Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan di perkotaan serta meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan nyaman. Ketersediaan ruang terbuka hijau dalam jumlah tertentu berdasarkan luas wilayah kota dan jumlah penduduk turut menentukan kualitas udara terkait dengan indikator kesehatan warga kota. Keberadaan ruang terbuka hijau dapat berfungsi, diantaranya sebagai penyerap gas/partikel beracun yang mencemari udara.

Dalam hasil penelitian Puji Lestari (2005), polusi udara di wilayah Kota Bandung sudah pada tingkat waspada. Hal tersebut terjadi karena konsentrasi partikel-partikel pembentuk polusi udara seperti karbon monoksida (CO), timbal (Pb), sulfur (SO), dan debu sudah sangat tinggi. Di beberapa tempat seperti Alun-alun dan kawasan Braga, kadar partikel pembentuk polusinya ada yang sudah melewati baku mutu lingkungan.

Dengan kondisi pencemaran udara seperti yang terjadi sekarang ini, ruang terbuka hijau dapat berfungsi menyegarkan udara dengan mengambil karbon dioksida dalam proses fotosintesis dan menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan untuk mahluk hidup bernafas.

Partisipasi

Menurut Eko Budihardjo, Pakar Arsitektur dari Universitas Diponegoro, perencanaan kota dan lingkungan, masyarakat acap kali dilihat sekedar sebagai konsumen yang pasif. Mereka diberi tempat untuk beraktivitas kehidupan, kerja, rekreasi, belanja dan bermukim, akan tetapi kurang diberi peluang untuk ikut dalam proses penentuan kebijakan dan perencanaannya. Padahal sebagai mahluk yang berakal dan berbudaya, manusia membutuhkan rasa dan pengawasan terhadap habitat atau lingkungannya. Rasa tersebut merupakan faktor mendasar dalam menumbuhkan rasa memiliki untuk kemudian mempertahankan atau melesarikan.

Keterlibatan masyarakat baik dalam perencanaan ataupun pasca pembangunan, memungkinkan sedikit dampak lingkungan akibat pembangunan. Partisipasi masyarakat ini salahsatunya bisa dituangkan dalam bentuk pengelolaan bersama RTH oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Jika masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan RTH, harapannya semua bisa menjaga keutuhan RTH tersebut. Dengan demikian keberadaan RTH tidak hilang sedikit demi sedikit karena dijaga bersama-sama.

Partisipasi masyarakat dalam menjaga keberadaan menjadi penting karena RTH berperan signifikan dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Begitu pula partisipasi dalam pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan secara proporsional dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan fungsi-fungsi lingkungan. Jika keberadaanya terjaga, secara sosial RTH menjadi aspek penting dalam membangun kota yang ramah lingkungan.

Pembangunan perkotaan secara umum yang berlangsung tanpa melibatkan partisipasi masyarakat akan berdampak bagi kehidupan bermasyarakat. Kota-kota besar akan tumbuh pesat tetapi tidak manusiawi dan tidak ramah. RTH menjadi alternatif untuk membuat sebuah kota tetap manusiawi dengan menyediakan kebutuhan berinteraksi antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Sebelum terlambat, masih ada banyak kesempatan untuk membuat kota menjadi lebih manusiawi, mari kita jaga RTH Kota Bandung ini dengan baik. (Iden Wildensyah)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.