Proses runtuhnya gedung WTC

Melanjutan artikel sebelumnya tentang proses kruntuhan gedung WTC disini

Dalam implementasinya struktur dinding kaku tersebut diwakili oleh kolom-kolom perimeter yang rapat dan diikat oleh balok tepi yang tinggi (deep spandrel beam). Sistem ini paling banyak digunakan karena dapat mengakomodasi jendela-jendela pada lubang-lubang diantara kolom-kolom perimeter. Pada gedung WTC-New York digunakan kolom-kolom perimeter baja berbentuk box berdimensi 450mm x 450mm, yang dipasang dengan jarak antar kolom 1.020mm (pusat ke pusat), dengan balok spandrel setinggi 1.320 mm. Pada lantai bawah setiap kelompok yang terdiri dari 3 kolom berubah menjadi kolom-kolom tunggal box yang berdimensi 800mm x 800mm. Seluruh rangka tabung dihubungkan dengan sambungan kaku (rigid connection) sehingga terbentuklah struktur rangka tabung yang bersifat “laterally and torsionally rigid frame tube” yang memiliki derajat hiperstatis yang tinggi. Dengan demikian struktur tabung tersebut lebih diutamakan dalam menampung beban-beban lateral, sedangkan core dan kolom-kolom interiornya lebih diutamakan dalam menampung beban-beban gravitasi. Sistem ini berlainan dengan struktur gedung yang tidak terlalu tinggi dimana core bangunan lebih diutamakan untuk menampung bebab-beban lateral. Dapat dikatakan sistem struktur berubah sesuai dengan makin tingginya bangunan.

kolom-gedung-wtc

Gambar 5. Unit tipikal dari kolom-kolom berjarak 1.020mm (pusat ke pusat) dengan balok spandrel

dinding-gedung-wtc

Gambar 6. Bentuk dinding diaphragma pada gedung WTC, New York

struktur-kolom-gedung-wtc

Gambar 7. Tiga kolom yang berubah menjadi kolom tunggal 800mm x 800mm

Struktur lantai komposit yang terdiri dari “deep bar joist” setinggi 900mm dengan jarak antar joist 2.040mm dan lantai setebal 100mm terbuat dari beton ringan. Dead weight lantai sekitar 50 kg/m2 dan imposed live load sebesar ~ 500 kg/m2. Struktur baja juga dilapisi pelapis tahan api vermiculite setebal 3 mm.

lantai-gedung-wtc

Gambar 8. Konstruksi lantai prefabrikasi gedung WTC, New York

Untuk bangunan yang demikian tinggi, perencanaan didominasi oleh beban angin, dan gedung WTC ini direncanakan terhadap beban angin sebesar 220 kg/m2. Hasil perhitungan memberikan maximum horizontal deflection 280 mm. Perencanaan terhadap hurricane tidak kurang dari “2% chance of occuring in a year”untuk jangka waktu beberapa jam secara terus menerus.

Kronologi Peristiwa Serangan Pesawat terhadap WTC New York

Serangan pesawat pertama kali ditujukan pada North Tower WTC pada jam 08.45 pagi dan serangan kedua pada South Tower WTC pada jam 09.05 pagi.

Dari tayangan rekaman video dan beberapa foto yang diperoleh terlihat bahwa serangan pesawat tidak menumbuk langsung secara frontal tegak lurus bangunan, tetapi cenderung dalam arah diagonal dan pada daerah agak kesudut bangunan. Dari beberapa foto rekaman juga terlihat bahwa saat terjadi ledakan yang disertai kebakaran tersebut, terlihat sekitar 7 sampai 10 lantai yang langsung menderita kerusakan dimana runtuhan lantai dan façade-nya berhamburan.

bagian-gedung-wtc-yang-di-tabrak

Gambar 9. Bagian gedung WTC – New York yang ditabrak pesawat

pesawat-menabrak-gedung-wtc

Gambar 10. Pesawat menubruk arah diagonal dan agak ke sudut bangunan

Pengirim: Moderator Migas-Indonesia

*Bersambung ke artikel selanjutnya 🙂

One Response

  1. Laabujahal 18 October 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.