Perbandingan Kehidupan anak tukang bangunan dan insinyur

Perbandingan Kehidupan anak tukang bangunan dan insinyur apakah menyenangkan atau menyedihkan?  kebahagiaan seorang  anak tidak diukur dari apa profesi ayahnya namun lebih pada hal-hal yang mampu menciptakan sebuah ketenangan hidup dan bagaimana rasa cinta kasih sayang bersemai dalam sebuah keluarga, Seorang tukang bangunan yang mempunyai keterbatasan dari segi materi bisa jadi berpikir bahwa akan dapat memberikan kebahagiaan setelah mampu memberikan sejumlah harta banyak kepada diri sendiri anak dan keluarga, Sedangkan seorang insinyur bangunan yang  berlimpah materi serta sangat sibuk akan pekerjaan proyeknya mungkin akan berpikir jika lebih dapat memberikan kebahagiaan  andai mampu memberikan waktu yang banyak, kedua hal tersebut bisa jadi baik dan benar namun akan lebih membahagiakan lagi jika har-hari keluarga dihiasi dengan kedekatan kepada Allah subahanu wataala karena disinilah nilai-nilai kebahagiaan hidup akan diperoleh.

 

Jika dinilai dari segi materi sebenarnya akan ditemukan kesamaan antara anak tukang bangunan dan insinyur bangunan, bisa jadi penghasilan tukang bangunan adalah Rp.50.000,00 / hari itupun jika sedang ada yang membutuhkan  tenaga seorang tukang, bagaimana jika mempunyai  5 anak dengan total 7 anggota keluarga dalam sebuah rumah? Jika dihitung secara matematika maka setiap anggota keluarga dengan biaya hidup Rp.50.000,00 : 7 = Rp.7.143,00 / hari sedangkan di Indonesia rata-rata makan 3 kali sehari yang dari anggaran tersebut jika dibagi tiga adalah Rp.2.381,00 sekali makan, namun itu hanya kebutuhan makan saja lalu bagaimana dengan biaya pendidikan anak, biaya pembayaran listrik serta biaya lainya yang harus dikeluarkan? Namun terkadang kita lihat sebuah rumah besar milik tukang bangunan bagaimana ini bisa terjadi? Apakah telah melakukan Korupsi seperti pejabat dengan penghasilan puluhan atau ratusan juta itu J lalu pertanyaanya apa yang bisa di korupsi, jawabanya adalah karena selain berprofesi sebagai tukang bangunan juga  pemilik kebun ratusan hektar, ini bisa jadi benar, namun ternyata ada rizki dalam bentuk lain selain UANG, seringkali  kita dengar bahwa penyakitnya rakyat kecil hanyalah masuk angin sedangkan penyakitnya pejabat itu aneh-aneh dari mulai kanker, Aids, dan sebagainya yang membutuhkan biaya banyak untuk perawatan.

 

Dalam bahasa lainya kita temukan kadar karat yang berbeda pada sejumlah nilai uang yang sama, Sperti sebuah emas meskipun nilai gramnya sama namun ada yang 24 karat, 22 karat atau bisa jadi sebuah emas tipuan yang dibuat untuk dijadikan mainan anak-anak. Kesimpulanya adalah sebuah kebenaran jika Allah subhanahu wataala tidak membeda-bedakan manusia dari segi harta, pangkat dan sebagainya, yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaan dan kedekatan seorang manusia dengan tuhanya, karena disini adalah ukuran kebahagiaan serta ketenangan kehidupan seseorang yang sesungguhnya, jadi apapun posisinya entah itu sebagai anak tukang bangunan maupun anak insinyur bangunan tetaplah semangat dalam meraih setiap cita-cita dalam kehidupan.

One Response

  1. Ady Nugraha 17 February 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.