Pasal Lingkup pekerjaan borongan sub kontraktor

Perlu diuraikan secara jelas tentang pasal lingkup pekerjaan borongan sub kontraktor, sehingga terang sudah apa saja borongan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab subkontraktor untuk diselesaikan, mengingat dalam satu kesatuan proyek itu ada bermacam jenis item pekerjaan yang pasti akan membingungkan jika tidak dijelaskan secara detail tentang lingkup pekerjaanya ketika hanya diborongkan sebagian pekerjaan saja oleh main kontraktor kepada subkontraktor, misalnya hanya pondasinya saja, hanya instalasi listriknya saja, plumbing, elektrikal, atau item yang lainya. o.k berikut contohnya.

 

contoh isi pasal lingkup pekerjaan

pasal lingkup pekerjaan

pasal lingkup pekerjaan

Lingkup Pekerjaan meliputi pekerjaan-pekerjaan :

  1. Pekerjaan Galian tanah
  2. Pekerjaan bekisting
  3. Pekerjaan pembesian
  4. Pekerjaan cor beton
  5. Pekerjaan bongkar bekisting.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut  sesuai  dengan perincian yang terlampir dalam Surat Perjanjian ini.

Dengan adanya pasal lingkup pekerjaan tersebut maka sub kontraktor sebagai pihak kedua tahu mana batasan-batasan pekerjaan yang menjadi kewajibanya untuk diselesaikan dalam tempo waktu yang sudah menjadi kesepakatan.

ini juga bisa menjadi dasar tertulis bagi pemborong untuk menolak permintaan pekerjaan lain yang tidak masuk dalam lingkup tanggungjawab apabila tidak ada persetujuan tambahan pembayaran dari owner atau pemilik bangunan.

Batasan tentang ruang lingkup pekerjaan ini sangat penting, hal ini mengingat dalam dunia proyek itu ada kemungkinan banyak hal tak terduga saat proses pelaksanaan, misalnya ketika melakukan pekerjaan pondasi, setelah digali 1m ternyata menemukan sebongkah emas sebesar truck pick up, he.. he.. kalau itu sih namanya rezeki harta karun, nah.. masalahnya terletak pada subkontrakor yang pekerjaan pondasinya tidak bisa dilanjutkan sebelum bongkahan emas itu disingkirkan, menyingkirkan sendiri berarti akan ada biaya tambahan yang bisa menimbulkan kerugian, kalau emasnya buat pemborong sih untung, bisa dijual sebagai biaya operasional dan sisanya sebagai keuntungan, masalahnya paling-paling diminta owner untuk diserahkan ke dinas purbakala, bisa tekor borongan. untuk itu perlu dijelaskan secara detail dalam surat perjanjian borongan agar gamblang mana-mana pekerjaan yang menjadi tanggung jawab owner maupun pemborong. agar kedua belah pihak sama-sama dalam posisi tidak dirugikan alias untung 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.