Nasib Hidran di Kota Bandung

Hidran adalah pipa yang dihubungkan ke suplai air terutama di jalan untuk menarik air dari saluran utama untuk memadamkan api. Hidran juga menjadi sumber air yang disediakan di sebagian besar daerah perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan dengan pelayanan air kota untuk memungkinkan petugas pemadam kebakaran mengisi pasokan air kota untuk membantu memadamkan api. di Amerika Serikat disebut pompa Johnny karena petugas pemadam kebakaran dari akhir abad 19 disebut Johnnies

Hidran terdapat dua jenis, hidran gedung dan hidran halaman. Hidran gedung atau biasa disebut dengan hidran box adalah suatu sistem pencegah kebakaran yang menggunakan pasokan air dan dipasang di dalam bangunan atau gedung. Hidran box biasanya dipasang menempel di dinding dan menggunakan pipa tegak (stand pipe) untuk menghubungkan dengan pipa dalam tanah khusus kebakaran.

Hidran halaman atau biasa disebut dengan hidran pilar, adalah suatu sistem pencegah kebakaran yang membutuhkan pasokan air dan dipasang di luar bangunan. Hidran ini biasanya digunakan oleh mobil pemadam kebakaran untuk mengambil air jika kekurangan dalam tangki mobil. Jadi hidran pilar ini diletakkan di sepanjang jalan akses mobil pemadam kebakaran.

Dalam www.reindo.co.id, di negara-negara maju ada standar pewarnaan dan tanda-tanda khusus untuk setiap sistem hidran sedangkan di negara–negara dunia ketiga hal tersebut belum lazim. Pada saat terjadi peristiwa kebakaran fire hydrant harus mudah terlihat dan segera dapat dipergunakan. National Fire Protection Association (NFPA) secara spesifik menyatakan bahwa fire hydrant harus diwarnai dengan kuning krom atau warna lain yang mudah terlihat termasuk diantaranya putih, merah, perak dan kuning krom, tetapi sebenarnya aspek terpenting adalah warna tersebut harus konsisten terutama dalam satu wilayah tertentu.

NFPA menyarankan bahwa secara umum ada perbedaan secara fungsi antara fire hydrant untuk kebutuhan perkotaaan (municipal system) dan kebutuhan pribadi (private system) termasuk di dalamnya untuk pabrik, sehingga harus ada perbedan warna dan penandaan lainnya. Secara internasional warna violet (light purple) telah dikembangkan sebagai warna untuk non-potable water.

Hidran sangat penting peranannya dalam usaha meredam bencana kebakaran. Seperti yang dituliskan PR 26 Agustus 2010, di Kota Bandung, rata-rata terjadi kasus kebakaran setiap minggu. Sejak Januari-Agustus 2010, tercatat 60 kasus kebakaran dengan taksiran kerugian Rp 6,465 miliar. Dari jumlah tersebut, 45 kasus di antaranya diduga akibat hubungan pendek arus listrik.

Sayangnya, menurut John Siregar, Kepala Dinas Kebakaran Kota Bandung menambahkan, dari 500 hidran yang tersedia, hanya 13 yang masih dapat dioperasikan. Demikian pula, kinerja 12 hidran sangat jauh dari standar kesigapan sehingga petugas pemadam kebakaran meng-andalkan satu hidran di Jln. Supratman. Menurut John, rata-rata waktu pengisian tangki di 12 hidran lain mencapai satu jam hidran-hidran itu tidak sesuai dengan standar kesigapan sehingga mengandalkan satu hidran di Jalan Supratman.

Kebutuhan Air Hidran

Untuk menentukan kebutuhan pasokan air kebakaran menggunakan perhitungan SNI 03-1735-2000 sebagai berikut : (1) Pasokan air untuk hidran halaman harus sekurang-kurangnya 2400 liter/menit, serta mampu mengalirkan air minimal selama 45 menit. (2) Jumlah pasokan air untuk hydrant halaman yang dibutuhkan ditunjukkan dalam rumus sebagai berikut, Volume air yang dibutuhkan hydrant (liter) adalah hasil perkalian antara debit aliran untuk hydrant pilar (liter/menit) dengan waktu pasokan air simpanan (menit).

Standar waktu pengisian tangki rang berkapasitas 4.000 liter dari hidran dengan tekanan 3,6 bar itu adalah 3 menit atau toleransi hingga 5 menit. Namun saat ini, standar pengisian menurun hingga sekitar 10 menit, sayangnya kondisi dilapangan tidak semulus yang direncanakan. Banyak hidran yang tidak beroperasi dengan baik, kondisinya sudah rusak.

Partisipasi Masyarakat

Ketika bencana kebakaran menimpa, barulah masyarakat menyadari pentingnya sebuah hidran. Untuk ini, dibutuhkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keutuhan hidran agar bisa beroperasi sebagai mana mestinya. Dalam kenyataannya, sering terjadi saling tuduh menuduh antara masyarakat dan pengambil kebijakan. Misalnya, masyarakat menganggap pemerintah tidak peduli dan tidak mengawasi kondisi hidran yang ada. Di sisi yang lain juga pemerintah bisa membalikan kenyataan pada masyarakat bahwa kondisi rusaknya hidran karena masyarakat tidak proaktif menjaga hidran yang sudah ada.

Kota Bandung termasuk kategori rawan kebakaran berdasarkan letak geografis dan jumlah penduduknya terus meningkat. Untuk itu partisipasi masyarakat dalam menjaga keberadaan hidran menjadi penting karena berperan signifikan dalam mengantisipasi bencana kebakaran agar tidak semakin meluas kemana-mana. Pembangunan perkotaan secara umum yang berlangsung tanpa melibatkan partisipasi masyarakat akan berdampak bagi kehidupan bermasyarakat.

Semoga saja jika semua pihak saling menjaga keberadaan hidran serta menyadari betapa pentingnya fungsi hidran tersebut, bencana kebakaran yang menimpa masyarakat bisa cepat teratasi. (Iden Wildensyah)

3 Comments

  1. Deri 21 March 2011
  2. yaya sutia 31 December 2011
  3. dana 30 December 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.