Mengharukan! Anak tukang bangunan bisa jadi insinyur

Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana dengan orang tua berprofesi apa, tapi kita punya kesempatan yang sama untuk berjuang mewujudkan cita-cita, tak peduli berasal dari keluarga miskin atau kaya, terhina atau terpandang, semua bisa jadi orang sukses asalkan giat berusaha, belajar dan berdoa. Ibarat kita mau menyeberang sungai besar dengan banyak buaya, ada yang dibekali orang tua dengan perahu emas, ada yang hanya dibekali dengan sebatang bambu sebagai rakit, yang bawa perahu emas memang lebih mudah untuk menyeberang, tapi ia rawan bersikap sombong ditengah jalan hingga akhirnya perahu oleng diterkam buaya. sebaliknya yang hanya berbekal rakit bambu, ia sadar dengan kekurangannya sehingga harus lebih berhati-hati dan kerja keras dalam menyeberang, alhasil ia berhasil melewati sungai dengan aman.

Berkaitan dengan hal ini, ada kisah mengharukan! Anak tukang bangunan bisa jadi insinyur, mari kita simak ceritanya.

Alkisah ada seorang tukang bangunan yang dimasa tuanya menyesal karena dulu tidak bisa sekolah seperti rekan-rekanya yang saat ini bisa bekerja lebih ringan, lulus TK saja tidak apalagi SD, tidak bisa baca tulis tapi kalau hitung uang tetap bisa 🙂 . ia tidak ingin anaknya mengalami nasib sama seperti ayahnya, sehingga sebisa mungkin berusaha menyekolahkan anaknya sampai bangku sarjana, tapi apalah daya, gaji sebagai tukang bangunan untuk biaya sehari-hari bersama istri dan 5 orang anak sungguh sangat pas-pasan atau bahkan sering kekurangan. untung saja si Anak mau prihatin dan bersekolah dengan sungguh-sungguh, ibarat kata biar seharian tidak makan asal bisa sekolah maka perut serasa kenyang, tapi kalau berhari-hari tidak makan ya bisa pingsan.

kesungguhan dalam bersekolah terbukti dengan diraihnya rangking 2 disaat menempuh sekolah dasar SD dan menengah SMP, meskipun lokasi sekolah jauh tapi tetap ditempuh dengan jalan kaki sejauh 2km saat SD, dan dengan mengayuh sepeda ontel pulang pergi sejauh 14km saat SMP.

Perjuangan berlanjut dengan diterimanya sebagai siswa di SMK favorit di indonesia jurusan teknik bangunan, lokasinya berada di luar kota sejauh 60km dari tempat tinggal, bukan hal mudah untuk menyelesaikan sekolah SMK, disamping orang tua harus bekerja lebih keras agar bisa membayar biaya sekolah serta makan sehari-hari selama di kota perantuan. si anak juga harus pintar-pintar hidup mandiri jauh dari orang tua dengan uang saku terbatas, perjalanan dari rumah ke sekolah sejauh 60km ditempuhnya dengan mengayuh sepeda ontel seminggu sekali karena selama sekolah numpang tinggal di kantor orang mengingat tidak kuat bayar kos-kosan. seberat apapun perjuangan akhirnya bisa menamatkan sekolah SMK, dan nasib memang sedang baik, si anak di ikut tes penerimaan pegawai kontraktor BUMN sehingga diterima meskipun belum lulus.

tukang bangunan dan insinyur

tukang bangunan dan insinyur

Diterima sebagai karyawan kontraktor BUMN berarti harus siap merantau di berbagai wilayah indonesia, untungnya selama bekerja lebih banyak ditempatkan di ibu kota, kesempatan itu digunakan sang anak yang sudah berusia 18 tahunan untuk melanjutkan kuliah ekstensi jurusan teknik sipil, kerja sambil kuliah. sehingga berhasilah menamatkan pendidikan s1 teknik sipil dengan gelar sarjana teknik yang dulunya disebut sebagai insinyur, gelarnya memang biasa, karena toh banyak orang yang bisa menamatkan kuliah dengan mudah, profesi tukang bangunan dan insinyur juga sama-sama baiknya. tapi yang kita lihat disini adalah proses perjuanganya yang luar biasa. selanjutnya si Anak sudah resign dari kontraktor BUMN dan belajar menjalankan usaha sendiri dibidang bangunan, ia adalah pendiri sekaligus pengelola blog ilmusipil.com ini yang banyak diakses dan dibaca oleh jutaan pembaca di indonesia maupun negara lainya. kita doakan semoga ia sukses dan hidup dalam kebahagiaan 🙂

4 Comments

  1. chake 31 March 2016
  2. priyad 30 August 2016
    • Ahadi 31 August 2016
  3. fedy_fatchan 29 April 2017

Leave a Reply