Ilmusipil.com Media Berbagi Ilmu Teknik Sipil dan Arsitektur

teknik sipil Klasifikasi Agregat

Agregat, apa itu agregat? Orang awam atau non-teknik sipil mungkin tidak mengetahui apa itu agregat. Agregat atau lebih tepatnya disebut batuan oleh orang awam, merupakan material yang paling sering digunakan dalam proyek konstruksi. Baik untuk jalan maupun untuk pembangunan gedung. Dan tentu saja, para perencana konstruksi punya alasan tersendiri asal mula penggunaan agregat pada proyek konstruksi.

Agregat merupakan batuan yang terbentuk dari formasi kulit bumi yang padat dan solid. Berdasarkan asal pembentukannya agregat diklasisifikasikan kedalam batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Sedangkan berdasarkan proses pengolahannya agregat digolongkan menjadi 2 (dua) macam, yaitu agregat alam dan agregat buatan.

Agregat alam merupakan agregat yang bentuknya alami, terbentuk berdasarkan aliran air sungai dan degradasi. Agregat yang terbentuk dari aliran air sungai berbentuk bulat dan licin, sedangkan agregat yang terbentuk dari proses degradasi berbentuk kubus ( bersudut) dan permukaannya kasar. Contoh agregat alam yang sering dipergunakan adalah kerikil dan pasir. Kerikil adalah agregat yang mempunyai diameter lebih dari ¼ inchi (6,35 mm), sedangkan pasir berukuran kurang dari ¼ inchi, tetapi lolos saring No. 200 atau lebih besar dari 0,075 mm.

Permintaan akan agregat alam yang berbentu kubus atau bersudut, mempunyai permukaan kasar, dan bergradasi baik yang semakin banya tidak mungkin seluruhnya dapat dipenuhi oleh degradasi alami. Oleh karena itu, agregat alam juga dapat dibentuk dengan cara pengolahan. Penggunaan alat pemecah batu (crusher stone) yang terkontrol dapat membentuk agregat sesuai bentuk yang dibutuhkan. Terutama untuk pembangunan jalan.  Agregat alam yang berasal dari tempat terbuka disebut pitrun, sedangkan yang berasal dari tempat tertutup disebut bankrun.

Selain agregat alam, juga terdapat agregat buatan. Agregat buatan merupakan agregat yang berasal dari hasil sambingan pabrik-pabrik semen dan mesin pemecah batu. Agregat buatan sering disebut filler (material yang berukuran lebih kecil dari 0,075 mm).

Berdasarkan besar partikel-partikelnya agregat dapat dibedakan atas agregat kasar, agregat halus dan abu/filler. Menurut ASTM agregat kasar berukuran > 4,75 mm, dan agregat halus berukuran < 4,75 mm. Sedangkan menurut AASHTO agregat kasar berukuran > 2 mm dan agregat halus berukuran antara 0,075 mm hingga < 2 mm.

Oleh Juliana Fisaini, mahasiswi Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala

Sumber  Perkerasan Lentur Jalan Raya – Silvia Sukiman

ilmu sipil
  1. cara tes kuat tekan beton
  2. pemeriksaan kadar lumpur dalam agregat halus
  3. Penyebab pekerjaan beton yang salah
  4. menghitung kekuatan plat beton bertulang
  5. perbandingan campuran beton K
  6. Cara membuat bestat besi tulangan
  7. analisis specific graviti dan penyerapan agregat kasar
  8. Contoh menghitung kebutuhan cor beton
  9. perencanaan campuran beton
  10. pekerjaan MASS CONCRETE beton volume besar
  11. pemeriksaan kadar organik dalam agregat halus
  12. pemeriksaan berat isi agregat
  13. cara pengetesan tulangan besi beton
  14. Cara Pembuatan benda uji untuk tes beton
  15. Tanya perhitungan struktur rumah 2 lantai
  16. Cara penggunaan lem beton Calbond
  17. analisa saringan agregat kasar dan halus
  18. kalkulator kebutuhan beton
  19. pemeriksaan kadar air pada agregat

2 Komentar

  • anas says:

    jadi ingat skripsiku, kajian karakteristik marshall dan kuat tekan bebas pada beton aspal campuran panas dengan bahan tambah asbuton.. : P

  • iqna says:

    perbandingan pasir dan krikil untuk agregat a, b, c, dan s. untuk jalan

Komentari

*
*

Current ye@r *