Keruntuhan gedung WTC

Melanjutkan artikel sebelumnya tentang proses keruntuhan gedung WTC disini , kemudian berlanjut lagi disini

Integritas Struktur

Berbagai kalangan bertanya-tanya apakah bangunan tidak direncanakan terhadap kemungkinan adanya tumbukan dari pesawat terbang ?. Kalau ya, seberapa besar pesawat yang harus diperhitungkan, padahal kita ketahui bahwa pesawat terus berkembang semakin besar dan semakin cepat, dengan volume bahan bakar yang juga terus bertambah besar. Selanjutnya apakah bangunan juga direncanakan terhadap serangan berbagai roket pesawat tempur ?. Mungkin dikemudian hari ada peraturan yang mengatur mengenai persyaratan ketahanan bangunan terhadap tumbukan pesawat dan hal-hal tak terduga lainnya. Suatu hal yang pasti bahwa persyaratan tersebut akan semakin meningkatkan biaya pembangunan gedung.

Terbetik berita yang belum dapat dikonfirmasikan bahwa gedung WTC tersebut direncanakan terhadap tumbukan pesawat jet Boeing 707. Juga digambarkan bagaimana bertahannya gedung Empire State Building yang dibangun sekitar 70 tahun yang lalu tetapi tetap survive setelah tertabrak pesawat tempur pada tahun 1943. Namun terbukti bahwa gedung-gedung tersebut tidak dapat bertahan terhadap tumbukan pesawat-pesawat masa kini dan masa mendatang, padahal pesawat terus berkembang, dan sangat sulit menentukan arah perkembangan pesawat masa mendatang.

Gambar Proses keruntuhan menara Selatan dan utara  WTC, New York

proses-keruntuhan-menara-wtc

Berikut adalah pernyataan dari Shelley Clark, principal dari Skilling Ward Magusson Barkshire pada Business Journal, 17 September 2001 yang mendukung pandangan diatas: “If we tried to design for airplanes to fly into our buildings, this isn’t something that we can really design for”

Pesawat yang menyerang gedung WTC-New York adalah pesawat Boeing 767-200ER dengan kapasitas penumpang 255, kapasitas cargo 81,4m3 dan kapasitas bahan bakar 90.770 liter, dan kecepatan 0,8 Mach ~ 530 Mph atau kurang lebih 900 km/jam. Bobot mati pesawat sendiri berkisar sekitar 35 ton. Pesawat 767-200ER ini diperkirakan dapat menimbulkan impact load antara 200.000 – 500.000 ton, tergantung pada kecepatan pesawat saat menabrak gedung.

Berangkat dari data tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa akibat tumbukan pesawat serta ledakan yang diakibatkannya, akan meruntuhkan sebagian kolom-kolom struktur serta beberapa lantai di atas dan di bawah daerah tumbukan tersebut. Selanjutnya kemungkinan besar tumbukan arah diagonal tersebut merusak sebagian daerah struktur core yang secara struktur memang tidak diperuntukkan untuk menahan beban lateral. Akibatnya kolom-kolom yang tersisa mengalami tegangan tambahan yang semula relatif merata menjadi tidak merata. Banyaknya kolom yang relatif sangat rapat (1.020mm pusat ke pusat) serta tingginya derajat hiperstatis struktur sangat membantu dalam meredistribusi tambahan tegangan tersebut disamping adanya daktilitas yang juga cukup tinggi sehingga memungkinkan struktur secara keseluruhan tidak mengalami keruntuhan seketika.

Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa akibat tumbukan pesawat menyebabkan runtuhnya sebagian kolom-kolom, tetapi tidak cukup mampu untuk meruntuhkan keseluruhan bangunan, ini berarti beban kejut (impact load) dari tumbukan pesawat saja belum dapat meruntuhkan bangunan karena beban-beban yang melanda bangunan belum melampaui “overall structural capacity”. Hal ini terbukti dimana bangunan tidak langsung runtuh. North Tower yang diserang pertama kali runtuh setelah berselang kurang lebih 1 jam 40 menit dan South Tower yang diserang belakangan runtuh setelah berselang kurang lebih 56 menit. Kuat dugaan pemicu keruntuhan adalah adanya kebakaran yang dahsyat dengan kapasitas beban bakar (fire load) yang tinggi dari pesawat yang mengandung bahan bakar sebanyak 90.770 liter.

Panas yang ditimbulkan diperkirakan dapat mencapai temperatur 1000°C dalam jangka waktu yang cukup panjang disamping adanya tambahan beban runtuhan yang menimpa lantai-lantai dibawahnya. Berdasarkan beberapa penelitian, baja mulai mengalami efek tekuk pada temperatur 550°C dan meleleh pada 1426°C. Pada umumnya perencanaan hanya mengantisipasi untuk kebakaran selama 3 jam dengan temperatur maksimum sekitar 500°C. Dengan demikian dapat dipahami untuk temperatur yang demikian tinggi struktur tidak akan dapat bertahan seperti yang direncanakan. Dalam kurun waktu pembakaran tersebut struktur mengalami perlemahan yang akhirnya mengakibatkan kolom-kolom mengalami tekuk dan kehilangan stabilitasnya. Selanjutnya setelah struktur bagian atas kehilangan stabilitasnya, beban struktur tersebut menimpa dan membebani struktur dibawahnya yang jelas melampaui kapasitas struktur lantai dibawahnya (yang direncanakan hanya sebesar 500kg/m2) sehingga terjadilah “progressive collapse” seperti “sandwich” tersebut.

Mudah-mudahan peristiwa ini dapat memberikan petunjuk kearah yang positif dikemudian hari. Akhirnya penulis berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi kita dapat mendengar berita hasil penelitian dan penyelidikan yang lebih akurat yang sekarang sedang dilakukan oleh para pakar di Amerika Serikat.

bangunan-disekitar-gedung-wtc

Gambar 13. Bangunan-bangunan sekitar WTC yang mengalami keruntuhan dan kerusakan

pola-keruntuhan-gedung-wtc

Gambar 14. Pola Keruntuhan Progressive Collapse Gedung WTC, New York

Pengirim: Moderator Migas-Indonesia

2 Comments

  1. tisna setiawan 28 June 2011
  2. M.Rakhmat Nur,Ir 3 August 2011

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.