Filsuf Teknik Sipil

Kedengarannya memang aneh, tetapi demikianlah kesan yang saya tangkap ketika bertemu salah seorang alumnus Teknik Sipil UGM yang aktif di Pers Mahasiswa. Sebagaimana aktivis Pers Mahasiswa pada umumnya, sosok dia terlihat nyentrik, seniman dan unik. Dibalik sosoknya yang dingin, saya menemukan sisi lain bagaimana seorang mahasiswa teknik sipil kemudian menjadi seperti filsuf.

Dia adalah teman satu angkatan dengan seorang penulis buku kenamaan dalam dunia teknik sipil. Dia menjelaskan bagaimana sebuah teori tentang hidrolika muncul kemudian lahir perhitungan-perhitungan yang harus diselesaikan ketika mendapat tugas dari dosen. Saya menyebutnya filsuf teknik sipil.

Kalau dipikir sekilas, tidak ada hubungannya seorang calon enjineer teknik sipil dengan dunia filsafat. Apalagi dunia teknik sipil yang selalu berpikir praktis, cepat, kaku (rigid) dan rasional. Sementara dunia filsafat yang dalam, dinamis, kadang terlihat seperti lambat dan juga kadang irasional. Sangat bertolak belakang. Saya selalu melihat dari dua sisi, ada benarnya pernyataan atau argumen sang alumnus teknik sipil tadi. Bahwa jika kita mengetahui dasarnya, maka permukaan-permukaannya harusnya mudah dimengerti dan dijalankan. Disini perlunya sebuah pemikiran mendalam tentang sebuah hal.

Perhatikan saja misalnya ketika mendapati sebuah pondasi cakar ayam. Pondasi yang sangat fenomenal ini ditemukan karena berpikir bahwa cakar ayam yang lebar mampu menopang beban diatasnya dengan baik. Coba bayangkan bagaimana seorang penemu bisa membuat sebuah aplikasi dari kehidupan terhadap dunia teknik sipil. Inilah sebuah kenyataan filsuf teknik sipil yang berguna bagi perkembangan teknologi teknik sipil.

Berpikir mendalam tentang sebuah teknologi teknik sipil, sampai ke akar-akarnya bisa membuat kaya berpikir seorang enjineer teknik sipil. Hal ini menjadi menarik karena tidak terjebak dalam suasana yang kaku, formal dan tidak berkembang. Jika ini yang terjadi, tidak ada bedanya antara manusia dengan mesin. Padahal, manusia punya potensi mengembangkan akal dan pikirannya.

Berpikir mendalam seperti filsuf bisa diaplikasikan dalam banyak bidang. Teknik sipil dengan berbagai kajian keilmuannya memberikan ruang yang besar untuk dikaji. Jadi, jika tertarik mengkaji, tidak ada salahnya bagi anda untuk berpikir ala filsuf.

oleh: Iden Wildensyah

Leave a Reply