Dinamika CFD

CFD atau Car Free Day yang sudah dicanangkan dan diresmikan oleh walikota Bandung memberikan banyak hal positif yaitu memberikan ruang bagi warga untuk beraktivitas tanpa terganggu oleh kendaraan bermotor. Bandung mungkin ketinggalan di banding Jakarta yang sudah jauh-jauh hari melaksanakan CFD pada beberapa ruas jalan protokol. Terlambat bukan berarti tidak melaksanakan, CFD sudah diresmikan oleh Walikota Bandung pada Minggu 09 Mei 2010 di Jalan Dago. Sepanjang jalan itu ditutup mulai dari Simpang Lima di bagian Utara sampai Jembatan Cikapayang di bagian Selatan.

Pada awalnya CFD dilaksanakan setiap tanggal 22 september, pada tanggal itu adalah World Car Free Day. CFD pertama pada tanggal 22 September 1998 ini adalah gagasan yang dicetuskan oleh menteri Lingkungan Hidup Prancis dengan tema “Di Kotaku tanpa Mobil”. CFD kemudian menjadi acara tahunan dan dilakukan diberbagai belahan negara lain di dunia. Tanpa melakukan pengukuran ilmiah terhadap kadar pencemaran pun, warga bisa merasakan kotornya udara ketika bernapas. Karena Car Free Day ini bermaksud membangkitkan kesadaran masyarakat tentang perlunya menjaga kebersihan udara sangat perlu. CFD kemudian menyebar ke Eropa dan negara lain di dunia mengingat semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor pribadi. Ternyata dengan kegiatan CFD, masyarakat dapat menikmati jalanan sebagai tempat bersosialisasi, berjalan kaki, berolah raga, panggung musik dan sebagainya.

Di Indonesia sendiri, CFD berawal dari acara lingkungan setiap tanggal 22 September di Jakarta. Kegiatan yang berlangsung sehari saja dari pagi sampai siang diisi oleh stand-stand pameran lingkungan, acara bersepeda, jalan kaki, futsal di jalan raya. Peserta pamerannya adalah organisasi lingkungan seperti Walhi, BPLHD, WWF, serta beberapa perusahaan yang peduli lingkungan. Kegiatan dari Jakarta ini menyebar ke beberapa Kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Surabaya dan kini Bandung. CFD sendiri tidak terikat pada tanggal 22 September saja, bahkan setiap hari Minggu di beberapa ruas jalan di Jakarta sudah ditutup untuk kegiatan CFD ini.

Kritik CFD

Ada beberapa kalangan yang justru mengatakan bahwa CFD sebenarnya bukan Car free day (hari bebas kendaraan bermotor) tetapi mengalihkan jalur saja. Jumlah kendaraan tetap, justru yang terjadi adalah penumpukan polusi pada satu titik saja. Misalnya di Jalan Cihampelas menumpuk mobil atau di jalan Setiabudi ke arah Lembang. Lihat saja data yang dikeluarkan oleh Litbang PU (2006) tercatat lebih dari 20.000 kendaraan setiap akhir pekan memasuki kota Bandung dari berbagai daerah terutama Jakarta. Efeknya polusi udara terus meningkat dan terlihat signifikan pada akhir pekan.

Mengutip data dari Polwiltabes Bandung tahun 2007, jumlah kendaran dari luar kota yang masuk ke kota Bandung, sejak Kamis hingga Sabtu (long weekend),  rata-rata mencapai 60 ribu kendaraan setiap harinya. Belum lagi kendaraan milik warga kota Bandung, yang jumlahnya bisa dua kali lipat. Pada 2006 lalu, jumlah kendaraan yang masuk ke Kota Bandung mencapai 45 juta kendaraan kecil dan 4,9 juta kendaraan besar. Hingga Mei ini baru 40 persen kendaraan yang masuk Ke Kota Bandung dari jumlah total kendaraan tahun lalu.

Dari data ini kita bisa melihat, jika sebanyak 20.000 kendaraan ini tidak masuk Jalan Dago tetapi melingkar ke arah Jalan Cihampelas atau Jalan L.R.E Martadinata, volumenya tetap saja karena yang ada hanya pengalihan jalur saja. Menurut penelitian Retno Gumilang Dewi dari Pusat Kebijakan Keenergian ITB, pelaksanaan Car Free day setiap hari minggu di ruas Jln Ir. H. Djuanda tidak efektif menurunkan emisi gas buang kendaraan bermotor. Sebab, tidak ada Car Free Day pun, ruas jalan tersebut pukul 06.00-10.00 WIB masih jarang dilalui kendaraan berbahan bakar fosil. Seharusnya menurut dia, jika Pemkot Bandung ingin lebih efektif menurunkan emisi gas buang, waktu pelaksanaannya dipindah misalnya ke Gasibu (PR, 17 Mei 2010)

Sisi lain

Tetapi jangan berkecil hati, walaupun dikritik tidak efektif dan hanya terjadi pengalihan arus, CFD memiliki sisi lain yang tidak kalah pentingnya. Sisi ini terlihat setidaknya pada jam-jam tertentu di sebuah Jalan Dago di Kota Bandung, udaranya akan tetap segar. Masyarakat bisa beraktivitas tanpa terganggu oleh kendaraan bermotor seperti mobil dan motor. Naik sepeda akan tenang, tidak was-was terserempet mobil. Demikian juga ketika jalan-jalan bersama keluarga, udara yang terhirup bukan asap knalpot.

Kita juga bisa melihat ke luar negeri. keberhasilan CFD di beberapa negara ditindaklanjuti dengan semakin gencarnya pengurangan kendaraan bermotor pribadi dan diimbangi dengan peningkatan sarana angkutan umum massal dan pembangunan pedestrian. Cara yang paling signifikan untuk menurunkan tingkat pencemaran udara adalah dengan beralih dari penggunaan kendaraan bermotor pribadi ke penggunaan alternatif transportasi non-motor, seperti bersepeda, berjalan kaki, bersepatu roda atau menggunakan kendaraan umum seperti bus, metromini, mikrolet.

Sehari tanpa kendaraan bermotor tampaknya akan menjadi satu kebutuhan bahkan di saat kesadaran untuk menjaga kualitas udara ini menjadi penting bias saja car free day tidak hanya dilakukan sehari, tapi setiap hari. Meninggalkan mobil pribadi sehari untuk merefleksikan betapa banyaknya peran kita dalam mencemari udara adalah tindakan bijak karena pada waktu yang lain juga ketika kesadaran akan udara yang bersih, kita menjadi pelaku aktif untuk mengurangi tingkat pencemaran.

Kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka terlihat ketika acara car free day dilaksanakan. Banyak aktifitas yang dilakukan warga ketika CFD berlangsung seperti bersepeda, jalan kaki, inline skating (bersepatu roda) dll. Pada CFD inilah sejenak ruang diberikan nafas untuk berinteraksi satu sama lain. Banyak aktivitas yang membuat CFD begitu asik, burung-burung terbang sekitar Jalan Dago, masyarakat ceria dan udara terasa sangat bersih di pagi hari saat tidak ada kendaraan bermotor. ( oleh: Iden Wildensyah )

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.