Banjir Kiriman

Saya selalu tersenyum kalau pejabat Jakarta bilang, ”banjir ini, banjir kiriman dari Bogor”. Waduh.. Bogor fantastis kalau bisa mengirim banjir. Kalau banjir bisa dikirim, kenapa tidak di kirim saja ke daerah yang kekurangan air. Daerah tandus yang selalu bermasalah dengan air. Bermasalah karena kekurangan, bukan bermasalah karena kelebihan. Banjir kiriman itu seolah ada kesan di kirim, padahal siapapun mengetahui, dari anak SD sampai S3 bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Oh.. bisa jadi karena Jakarta ada di tempat rendah dan Bogor ada di tempat tinggi maka dengan mudahnya mengatakan ”banjir ini, banjir kiriman” seperti paket, surat ataupun hadiah dari seseorang.

Ilustrasi diunduh dari Google (viaindonesia.wordpress.com)

Banjir di Jakarta selalu menjadi berita paling populer mengalahkan dinamika politik yang sedang terjadi di Senayan. Tapi bisa jadi sebagai alasan pengalihan isu juga. Misalnya ”Buat banjir saja Jakarta, nanti orang-orang lupa masalah yang terjadi karena ada masalah kemanusiaan yang sedang terjadi”. Banjir Jakarta adalah musibah yang bisa melumpuhkan dinamika apapun yang terjadi di Indonesia terutama jika sudah berkumpul di Senayan. Persis seperti banjir yang berkumpul di Jakarta lalu membuat belok masalah lainnya.

Seharusnya sebagai mahluk akademis, tidak perlu ada lontaran bahwa banjir Jakarta adalah banjir kiriman. Banjir adalah banjir yang terjadi karena air permukaan melebihi kapasitas saluran. Air yang berlebih sebetulnya sama saja volumenya dari tahun ke tahun. Yang membedakan hanya kapasitas tampungannya. Air yang mengalir bermula dari hujan lalu turun ke bumi tetap sama, hanya penampung dan penyerapnya saja yang berbeda. Analoginya begini, hujan tiap tahun turunnya sama kurang lebih sekitar bulan september sampai februari, lewat sedikit ke april, mei dan benar-benar berhenti sekitar bulan juni sampai agustus. Bulan februari adalah bulan tertinggi dalam hitungan curah hujan. Di luar bulan februari, kalaupun ada intensitas hujannya tidak akan sebesar bulan februari.

Hujan datangnya sama, tetapi penampungnya setiap tahun berubah. Daerah resapannya setiap tahun mengalami penyusutan. Hutan-hutan yang banyak pohon sedikit demi sedikit berkurang, sungai-sungai sudah tergerus oleh pemukiman. Maka hujan yang datang akan mengalami kekagetan luar biasa. Maka wajar saja jika sebelumnya tidak banjir sedikit demi sedikit perlahan banjir akan menggenangi wilayah yang selalu rutin di hujani. Banjir jangan menyalahkan curah hujannya yang tinggi, atau kapasitas tampungannya yang berkurang, apalagi menyalahkan bagian hilirnya, misalnya mengatakan ”banjir ini, kiriman dari Bogor” …. Baah mana bisa Bogor mengirim banjir, lha wong banjirnya yang mengalir ke Jakarta kok. (Iden Wildensyah)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.