Asuransi tenaga kerja proyek konstruksi bangunan

Kecelakaan kerja merupakan hal yang sangat tidak diharapkan terjadi saat pelaksanaan pembangunan, baik itu kecelakaan ringan yang berakibat luka-luka, atau yang fatal berujung pada kematian. berbagai upaya antisipasi perlu dilakukan dari mulai pengamanan lokasi kerja, kebersihan lingkungan, sampai dengan penyuluhan kepada pekerja agar senantiasa dalam keselamatan. namun terkadang musibah tetap saja tak terhindarkan, untuk itu setiap pekerja proyek perlu didaftarkan asuransi tenaga kerja (ASTEK) sebagai proteksi ketika kecelakaan itu terjadi. asuransi ini bisa dibebankan kepada pemborong atau kontraktor sebagai pihak kedua, tapi perlu dimuat dalam pasal khusus pada surat perjanjian borongan, contohnya bisa dibuat seperti ini.

 

contoh pasal asuransi tenaga kerja proyek konstruksi bangunan

  1. PIHAK KEDUA diwajibkan membayar iuran tanggungan Asuransi Sosial Tenaga Kerja (ASTEK) yang meliputi asuransi kecelakaan kerja dan kematian sesuai ketentuan yang berlaku.
  2. PIHAK KEDUA wajib mengasuransikan selama jangka waktu pelaksanaan, atas nama Pemberi Tugas dan PIHAK PERTAMA, Pekerjaan serta bahan/barang yang  ada  di lokasi Pekerjaan dan belum terpasang terhadap kerusakan dan kerugian yang  disebabkan oleh kebakaran, angin topan, gempa bumi, tanah longsor, banjir, sambaran petir,  benda-benda  angkasa, pesawat terbang dan risiko lain yang lazim ditanggung  dengan  asuransi “Contractors’  All  Risk”  untuk  nilai  pertanggungan  sekurang-kurangnya sebesar Harga Borongan.
  3. PIHAK KEDUA wajib mengasuransikan, atas nama Pemberi Tugas dan PIHAK PERTAMA,  risiko  atas  pihak  ketiga yang berkenaan  dengan  luka  atau  kematian  orang siapapun dan kerusakan harta benda apapun yang terjadi karena atau sehubungan  dengan pelaksanaan Pekerjaan dengan asuransi “Third Party Liability”.
  4. Asuransi  tersebut  pada  ayat  3 dan  4  pasal  ini  harus dipertanggungkan kepada perusahaan asuransi yang  disetujui oleh  PIHAK  PERTAMA,  dan PIHAK  KEDUA  harus  menyerahkan kepada Pemberi Tugas melalui PIHAK PERTAMA rekaman polis asuransi dan kwitansi  pembayaran preminya.
  5. Bila PIHAK KEDUA  tidak  mengasuransikan   atau   tidak  memperpanjang  asuransi sedangkan  Pekerjaan  Pondasi rumah semut belum selesai (kecuali dalam hal tersebut pada ayat 5 pasal ini) maka PIHAK PERTAMA akan mengasuransikan segala sesuatu tersebut  dengan mengurangi jumlah pembayaran kepada  PIHAK KEDUA.  Jumlah  nilai pengurangan  tersebut  sesuai  dengan biaya  premi  asuransi  yang telah  dibayarkan  oleh  PIHAK PERTAMA.

 

Memang kelihatanya merupakan suatu pemborosan jika harus membayar premi asuransi untuk semua pekerja proyek, apalagi jika ternyata kecelakaan itu tidak terjadi, seakan seperti membuang uang sia-sia. namun akan sangat rugi jika ternyata kecelakaan itu terjadi sehingga pemborong diharuskan menanggung resikonya sendiri karena sebelumnya tidak mendaftarkan pekerja ke pihak asuransi, OK semoga bermanfaat, selanjutnya kita bahas pasal tentang pengakhiran perjanjian borongan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.