Alasan Saya mengundurkan diri dari karyawan tetap perusahaan besar

Tepat pada pergantian tahun 2014 ke 2015 saya telah resmi mengundurkan diri dari karyawan tetap salah satu perusahaan terbesar dan terbaik di indonesia, Sebelumnya saya telah bekerja pada perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor tersebut selama 10 tahun dimulai dari tahun 2005, Saya hanyalah orang biasa tamatan SMK dari keluarga sederhana yang sangat bersyukur bisa bekerja di perusahaan konstruksi skala besar tersebut, kesempatan tersebut saya gunakan untuk bekerja dan berkarya dengan baik, sambil menyelesaikan kuliah S1 teknik sipil pada sebuah universitas di kota dimana tempat saya ditugaskan hingga berhasil lulus tahun 2011, dalam situasi tersebut saya bisa belajar dibangku kuliah sekaligus di tempat kerja, saya juga bisa menabung dari sebagian penghasilan yang tergolong besar menurut ukuran saya, tabungan tersebut sebagian saya tabung dalam bentuk properti dengan cara membeli rumah KPR dan akhirnya saya jual kembali dengan mendapat keuntungan dari kenaikan harga jual. Nah.. apakah gerangan alasan yang membuat saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan kontraktor dengan kepastian gaji besar serta berbagai tunjangan menarik tersebut, inilah penjelasanya 🙂

 

Pencapaian saya selama 10 tahun bekerja di perusahaan kontraktor besar

Secara materi dalam waktu singkat tersebut saya bisa membeli lebih dari sepuluh handphone, 1 bh sepeda ontel, 4 bh sepeda motor, 1 bh mobil, 1 bidang tanah, 2 bh rumah, semua itu saya beli dari penghasilan kerja dan usaha sampingan tanpa melakukan korupsi. sikap hidup saya yang sederhana juga sangat mendukung kecepatan menabung karena dalam sehari-hari saya tidak membutuhkan biaya besar untuk menopang gaya hidup gengsi gede-gedean. memang pada awal-awal bekerja saya tergolong boros, bayangkan saja dalam setahun pertama kerja, saya bisa ganti handphone 6 kali dengan harga dua kali lipat gaji saya sebulan, hingga akhirnya sadar bahwa saya harus bisa mengendalikan diri dengan gaya hidup yang sederhana agar bisa kuliah dan menabung untuk meraih mimpi dan hidup yang lebih baik.

Dari segi ilmu dan pengalaman, saya jadi mengerti banyak tentang ilmu konstruksi bangunan yang sebagian diantaranya saya tuliskan di blog ilmusipil.com, saya berpengalaman membeli rumah secara KPR, menjual rumah, mendesain rumah, membangun rumah, mendirikan nama perusahaan PT tapi gagal beroperasi 🙂 , bertemu dan bersosialosasi dengan banyak teman dengan bermacam karakter, dan masih banyak ilmu serta pengalaman yang berharga lainya.

Bagi sebagaian orang mungkin pencapaian tersebut sangat rugi jika saya tinggalkan, banyak yang memberi saran sebaiknya tetap bekerja pada perusahaan tersebut sampai pensiun di umur 58 tahun, Lalu kenapa saya memutuskan untuk mengundurkan diri di usia 27 tahun? berikut alasanya 🙂

saya mengundurkan diri

saya mengundurkan diri

Berikut beberapa alasan saya mengundurkan diri dari perusahaan kontraktor besar

Faktor Perusahaan

  1. Dulu saat mulai bekerja saya melihat ada suasana kekeluargaan yang besar pada perusahaan ini, saham perusahaan separuhnya dipegang perusahaan dan separuhnya karyawan, meskipun saya tidak masuk golongan karyawan yang punya saham namun saya melihat tujuan bekerja karyawan bukan hanya sekedar materi tapi ada hal-hal lain yang terlihat lebih menyenangkan, namun sepuluh tahun kemudian saat status perusahaan berubah menjadi Tbk, yang artinya saham dijual kepada masyarakat umum entah itu rakyat indonesia atau warga negara lain, saya melihat tujuan aktifitas perusahaan cenderung ke materi, bagaimana caranya mendapat untung besar dan saham terus meningkat, posisi karyawan bergeser hanya sebagai alat untuk mencetak uang. kondisi tersebut membuat loyalitas banyak karyawan kepada perusahaan menurun, dan situasi tersebut tidak sejalan dengan hati nurani saya.
  2. Saya merasa perusahaan tersebut tidak mempedulikan perkembangan saya dan teman-teman senasib yang hanya lulusan SMK, kami harus berjuang sendiri jika ingin karir meningkat, pendidikan dan pelatihan hanya diberikan kepada para sarjana, terutama yang lulusan dari universitas ternama di indonesia, padahal menurut saya keahlian mereka biasa-biasa saja, bahkan banyak yang berlindung dibalik kebesaran nama kampus.
  3. Jam kerja di proyek yang tidak mengenal waktu, pernah saya ditugaskan sebagai pelaksana galian tanah, malam hari masuk kerja, pagi istirahat hanya 5 jam dan kemudian bekerja sampai ketemu malam kembali, ketika saya jadi engineer berangkat kerjanya jam 8 pagi, pulang jam 22.00, saya berpikir bahwa saya berdosa karena menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk bekerja. jadi mereka, keluarga, tetangga, dan teman-teman saya terampas haknya untuk mendapatkan waktu bertemu dengan saya.
  4. Selama sepuluh tahun saya bekerja di kota yang jauh dari tempat dimana saya berasal, artinya saya merantau selama bekerja, dan saya tidak ingin menghabiskan seumur hidup saya sampai pensiun di perantauan.

Faktor lingkungan kerja

  1. Hampir diseluruh proyek saya berkumpul dengan teman-teman yang sebagian besar hobinya makan-makan direstoran ternama, pamer mobil mewah, dan kecenderungan untuk mengukur keberhasilan dengan banyaknya materi. Ada satu peristiwa yang menurut saya aneh, ceritanya seringkali saya diajak makan-makan di restoran megah, salah satu pesanan menunya adalah seekor kepiting seharga 3 juta rupiah, padahal dikampung saya yang dekat pantai, seekor kepiting paling-paling harganya sekitar 50ribu rupiah saja, bahkan seringkali gratis. jujur, kondisi tersebut membingungkan nalar sehat saya, dan saya tidak cocok dengan budaya hidup yang serba mewah tersebut.
  2. Saya melihat teman-teman yang hampir menuju masa pensiun diumur 55 tahun, mereka seakan mengalami kesulitan mau bekerja atau menjalani usaha apa setelah tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut, bahkan banyak diantaranya yang rela bekerja kembali sebagai karyawan kontrak di usia tua, padahal tubuh sudah letih dan tak lagi segar, saya tidak ingin dalam kondisi seperti itu dimasa tua kelak, jadi saya memutuskan untuk mengambil langkah berbeda dengan mereka.

Faktor diri saya sendiri

  1. Saya melihat dalam hati kecil saya selalu memberontak ketika di suruh atau dikoreksi orang lain dengan gaya atasan yang sok berkuasa, sebaliknya hati saya akan merasa senang jika disuruh orang yang membutuhkan bantuan, dari situ saya melihat bahwa saya cocok berada di dunia usaha yang bekerja secara mandiri untuk melayani dan memberi manfaat kepada orang lain.
  2. Saya melihat ada potensi pada diri saya yang tidak bisa keluar ketika saya menjadi karyawan, ada jiwa desain, kreatifitas, disiplin dan sejenisnya yang akan keluar jika saya berada ditempat dengan kebebasan penuh untuk mendesain, berkreasi, dan mengelola kegiatan tersebut, dan hal itu ada jika saya menjadi pengusaha, saya sadar bahwa menjadi pengusaha sukses bukanlah hal yang mudah, namun setidaknya saya sudah meraih kesuksesan dalam hal berani resign dan berani menjadi pengusaha 🙂
  3. Saya ingin lebih banyak memberikan waktu untuk keluarga, saya sadar tidak akan berhasil jika mendidik anak-anak hanya dengan memberinya uang berlimpah sementara saya selalu sibuk bekerja.

 

Saya sadar dengan resiko yang saya ambil dengan resign dari karyawan tetap perusahaan kontraktor skala besar, meninggalkan banyak teman-teman yang tergolong baik menurut saya, tak ada lagi gaji tetap setiap bulan namun saya terpaksa bekerja lebih keras agar bisa mendapat penghasilan setiap hari, saya tidak peduli seberapa besar penghasilan yang akan saya peroleh apakah lebih besar atau lebih kecil dari gaji saat bekerja dulu, biar kecil yang penting berkah,  lagipula ada penghasilan bentuk lain yang jauh lebih berharga yaitu waktu dan kesempatan saya untuk belajar mendekatkan diri kepada Allah Tuhan yang sebaiknya hanya kepadanyalah saya bergantung dan meminta pertolongan, Yah..  jika selama ini saya bisa memberikan keuntungan bagi perusahaan dimana tempat saya bekerja sebagai karyawan, maka saya yakin bisa memberikan keuntungan bagi perusahaan dimana tempat saya bekerja sebagai pengusaha, tidak ada salahnya untuk mencoba meraih mimpi, mohon doanya semoga berhasil 🙂

40 Comments

  1. Wenda N. Agung 2 January 2015
  2. www.animasipil.blogs 2 January 2015
  3. opieq 2 January 2015
  4. Lek Rudy 2 January 2015
  5. eva 3 January 2015
  6. Agus 4 January 2015
  7. atay 5 January 2015
  8. Albebb 12 January 2015
  9. Aldi 13 January 2015
  10. suprayitno 15 January 2015
  11. Khoiru 17 January 2015
  12. widi 17 January 2015
  13. tris 19 January 2015
  14. Rian 20 January 2015
  15. Dina 24 January 2015
  16. Suprayetno 26 January 2015
  17. Rois Muslim 18 February 2015
  18. birr.rin 7 March 2015
  19. Pak De 23 April 2015
  20. yeddy 20 May 2015
  21. priyo agung 19 March 2016
  22. ayyub 16 April 2016
    • Andre 25 August 2018
  23. anto 24 June 2016
  24. Sungsang Eko 26 July 2016
  25. Rian 1 August 2016
  26. Mochammad A Budianto 1 August 2016
  27. marulloh 3 August 2016
  28. Abdurozaq, Cirebon 10 August 2016
  29. Lintang 23 August 2016
  30. rakha 30 August 2016
  31. Wahyu Adi Pratama 2 September 2016
  32. bapak 28 September 2016
  33. Utama 22 December 2016
  34. Edy 25 August 2017
  35. Nofan Kurniawan 10 May 2018
  36. Nofan Kurniawan 10 May 2018
  37. afif 11 September 2018
  38. Abduh 26 December 2018
  39. Refa Genda 3 January 2019

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.